Hukum Operasi Ganti Kelamin

by
Sebelum dan sesudah ganti kelamin. Foto: Istimewa

Oleh: Nurul Kamilia Dwiastuti, Mahasiswa PAI-A Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Istilah penggantian kelamin merupakan terjemahan dari bahasa inggris “transeksual”, karena memang operasi tersebut sasaran utamanya adalah mengganti jenis kelamin seorang waria yang menginginkan dirinya menjadi perempuan. Padahal waria di golongkan sebagai seorang laki-laki, karena ia memiliki alat kelamin laki-laki.

Wartapilihan.com, Jakarta –Dapat ditarik suatu pengertian bahwa penggantian kelamin (transeksual) adalah usaha seorang dokter Ahli bedah pelastik dan kosmetik untuk mengganti kelamin seorang laki-laki menjadi kelamin seorang perempuan dengan cara melalui proses operasi.

Bukan hanya di Negara barat saja yang menunjukkan keberhasilan beberapa Dokter Ahli, mengganti kelamin laki-laki menjadi kelamin perempuan, tetapi di Indonesia pun sudah banyak Dokter yang mampu berbuat seperti itu.
Meskipun proses operasi penggantian kelamin hanya memerlukan waktu dua jam saja, namun hal tersebut tidak bisa disebut sebagai operasi kecil, karena resikonya yang sangat besar bila terjadi kekurang telitian atau kelalaian Dokter yang menanganinya. Resiko yang dimaksudkannya, bukan saja terjadi pada saat pembedahan, tetapi justru sesudahnya yang lebih berbahaya. Lebih-lebih bila larangan Dokter dilanggar oleh yang menjalankan penggantian kelamin itu.

Pada operasi penggantian kelamin, penis (dzakar) dan scrotum (buah dzakar atau buah pelir) serta testis (tempat produksi sperma) dibuang. Sedangkan kulit scrotan digunakan untuk menutup liang vagina (faraj) dan untuk pembuatan clitoris (klentit), diambil sebagian dari penis yang terlah terbuang tadi.

Adapun hukum dari melakukan operasi ganti kelamin ini berdasarkan dalil Alquran dan Sunnah. (M. Mukhtar Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibbiyah, hal. 199; Fahad Abdullah Hazmi, Al-Wajiz fi Ahkam Al-Jirahah Al-Thibbiyyah, hal. 12; Walid bin Rasyid Sa’idan, Al-Ifadah al-Syar’iyah fi Ba’dh Al-Masail al-Thibbiyyah, hal. 128), menyatakan bahwa Hukum operasi ganti kelamin adalah haram.

Dalil hadis riwayat Ibnu Abbas RA yang berbunyi لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَال menjelaskan bahwa,”Rasulullah SAW telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR Bukhari). Hadis ini mengharamkan perbuatan laki-laki menyerupai wanita atau perbuatan wanita menyerupai laki-laki. Maka, operasi ganti kelamin haram hukummya, karena menjadi perantaraan (wasilah) bagi laki-laki atau perempuan yang dioperasi untuk menyerupai lawan jenisnya. Kaidah fiqih menyebutkan,” الوسيلة إلى الحرام محرمة” artinya yaitu “Segala perantaraan menuju yang haram hukumnya haram juga”.

Operasi ganti kelamin juga merupakan dosa besar (kaba`ir), sebab salah satu kriteria dosa besar adalah adanya laknat (kutukan) dari Allah dan Rasul-Nya. (Imam Dzahabi, Al-Kaba`ir, hal. 5; Imam Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Juz V/120; Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Juz 11/650).

Jadi, dalam hal ini yang berdosa itu bukan hanya orang yang dioperasi, tapi juga semua pihak yang terlibat di dalam operasi itu, baik langsung atau tidak, seperti dokter, para medis, psikiater, atau ahli hukum yang mengesahkan operasi tersebut. Semuanya turut berdosa dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah pada Hari Kiamat kelak, karena mereka telah bertolong menolong dalam berbuat dosa. Padahal Allah SWT berfirman dalam QS al-Maidah ayat 2, “Dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Semua yang terlibat langsung atau tidak terhadap upaya penggantian kelamin, termasuk menanggung dosa besar. Hal ini dapat diketahui status hukumnya sebagai haram, yang mengakibatkan dosa bagi seorang Dokter yang menanganinya, dan orang-orang yang memberikan fasilitas serta dukungan morilnya, berdasarkan Qoidah Fiqhiyah yang berbunyi مَا حَرَمَ أَخْذُهُ، حَرَمَ اِعْطَائُهُ artinya yaitu “Apa-apa yang diharamkan menerimanya, diharamkan pula memberinya”.

Maksud  qoidah ini adalah seorang waria diharamkan menerima penggantian kelamin dari Dokter. Maka diharamkan pula bagi Dokter untuk memberikan (membantu) waria itu dalam upaya tersebut.

Ada salah satu qaidah juga yang memperkuat hal ini yaitu yang artinya Rela (memberikan dukungan) terhadap sesuatu, berarti rela pula terhadap resiko (dosa) yang ditimbulkan. Maksud qoidah ini, adalah orang-orang yang memberikan fasilitas dan dukungan morilnya, termasuk kedua orang tuanya yang memberikan ijin untuk penggantian kelamin seorang waria, turut menanggung dosanya. Jadi jelas, bahwa semua orang yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam upaya penggantian kelamin seorang waria, mendapatkan dosa yang sama besarnya dengan dosa yang diperbuat oleh waria itu.

Namun, adapun operasi penyempurnaan kelamin (takmil al-jins) hukumnya boleh. Hal ini berlaku bagi orang yang memiliki alat kelamin ganda, yaitu mempunyai penis dan vagina sekaligus. Operasi ini hukumnya mubah, berdasarkan keumuman dalil yang menganjurkan berobat (al-tadawiy). Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam shahihnya, dari shahabat Abu Hurairah  bahwasanya Nabi SAW bersabda, مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شَفَاءً” yang memiliki arti, bahwa “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan pula obatnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *