Gen Penyebab Penderita Diabetes Terkena Glaukoma

by
Pemeriksaan mata. Foto: Istimewa

Tidak semua pasien yang menderita diabetes melitus selama 10 tahun lebih bakal terkena glaukoma. Peneliti dari UI menemukan adanya peran gen Brn3b. Jika ekpresi gen menurun, penderita bakal terkena glaukoma. 

 

Wartapilihan.com, Jakarta –-Glaukoma jangan dianggap remeh. Ia merupakan salah satu penyakit mata yang menjadi penyebab utama kebutaan. Di Indonesia ia menempati urutan kedua terbanyak setelah katarak. Yaitu sebanyak 13%, sedangkan katarak 52%.

Bedanya glaukoma kalah populer dibandingkan dengan katarak. Semua orang hampir pasti mengenal katarak dari serangan yang perlahan-lahan dan ditandai adanya awan putih pada penglihatannya.

Sebaliknya, glaukoma lebih disebabkan oleh tekanan di bola mata. Glaukoma adalah tipe penyakit mata yang bersifat kronik progresif yang ditandai dengan apoptosis pada sel-sel ganglion retina yang bermanifestasi klinis berupa, penipisan neuroretinal rim dan lapisan saraf retina disertai kehilangan pada lapang pandang.

Banyak faktor penyebab glaukoma. Salah satunya adalah diabetes. Penyakit kelebihan gula darah ini bisa merusak pembuluh darah di mata, paling tidak dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun. Masalahnya, tidak semua penderita diabetes bakal terkena glaukoma.

Nah dr. Irwan Tjandra, SpM, dokter spesialis mata yang berpraktek di MRCCC Siloam Hospital Semanggi, Jakarta Selatan, menyebut adanya peran gen Brn3b. Itu dibuktikan lewat disertasinya yang dipertahankan dalam promosi doktornya di FKUI, Jalan Salemba, Jakarta Pusat (25/1/2018).

Irwan menggarap studi pada tipe glaukoma primer sudut terbuka (GPSTa) yang merupakan salah satu dari dua jenis glaukoma berdasarkan mekanisme tekanan pada mata. GPSTa merupakan jenis glaukoma yang tersering ditemukan. Selain itu juga bersifat kronik dan bersifat progresif. GPSTa menyebabkan pengecilan lapangan pandang bilateral.

Proses ini terjadi berawal dari kematian sel ganglion yang akan menyebabkan perubahan pada serabut saraf retina. “Selanjutnya menyebabkan terjadi kerusakan pada papil saraf optik dan akhirnya terjadi penyempitan atau kehilangan lapang pandang perifer,” ujarnya. Tapi GPSTa pada pasien diabetes melitus bervariasi antara satu pasien dengan pasien lainnya.

Sementara itu, kata Irwan, gen Brn3b dikenal dengan nama lain: POU3b. Ia berada di lapisan ganglion sel retina. Gen ini berperan dalam memelihara sel ganglion dari apoptosis (anti-apoptosis), sehingga serabut saraf retina tetap terpelihara. “Pada pasien diabetes dengan GPSTa diduga ekspresi gen Brn3b mengalami penurunan secara berangsur-angsur, sehingga sel ganglion mengalami apoptosis secara terus menerus,” ujarnya. Apoptosis adalah proses kematian sel yang diakibatkan karena proses bunuh diri.

Pada penelitian ini Irwan menggunakan model tikus jantan jenis Spraque-Dawley. Hewan pengerat itu dibuat seperti menderita penyakit diabetes melitus tipe 1. Caranya dengan memasukkan racun streptozotocin (STZ) 50 mg/kgBB). Diabetes tipe ini adalah diabetes dimana kelenjar pankreas tidak memproduksi hormon insulin, sehingga harus dipasok insulin dari luar. Sedangkan insulin adalah hormon yang dapat mengubah gula darah dalam tubuh menjadi energi.

Setelah diamati ternyata pada tikus tadi, tingkat ekspresi Brn3b mengalami penurunan pada sel ganglion retina. Mencit tadi secara bertahap mengalami gejala yang mengarah pada glukoma.

Dari situ, Irwan mengatakan temuan tersebut dapat dijadikan parameter untuk memprediksi terjadinya glaukoma dini pada pasien diabetes melitus. “Pasien diabetes yang sudah menderita penyakit itu selama 10 tahun, juga diminta menjalani tes ekspresi gen Brn3b,” ujarnya. Sehingga dokter bisa melakukan pencegahan agar terhindari glaukoma. “Skrining awal sangat diperlukan untuk menentukan bagi pasien yang baru didiagnosis hiperglikemia,” imbuhnya.

Tapi apakah gen itu bisa ditingkatkan agar bersifat protektif? Dalam Jurnal investigative Opthalmology & Visual Science, seorang peneliti Universitas North Texas, Amerika Serikat, Dorota L Stankowska mengatakan bisa. Ia sudah membuktikannya pada tikus yang direkayasa menderita glaukoma. Dengan bantuan sebuah virus ekpresi gen Brn3b meningkat. Mata tikus pun kembali normal.

Helmy K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *