GELIAT PERADABAN

by
Aya Sofya, Istambul, Turki. Jejak peradaban Kristen dan Islam. Foto: Istimewa.

Peradaban atau Civilization mempunyai beberapa definisi yang hampir semakna dari para pemikir Islam dan cendikiawan lainnya. Sayyid Quthb misalnya, beliau mendefinisikan peradaban (hadlarah) dengan sekumpulan konsep (mafahim) tentang kehidupan.

Wartapilihan.com, Jakarta –Peradaban bisa berupa peradaban spiritual ilahiyah (diiniyyah ilahiyyah) atau peradaban buatan manusia (wadl’iyyah basyariyyah). Peradaban spiritual ilahiyah lahir dari sebuah ideologi (‘aqidah), sebagaimana peradaban Islam yang lahir dari aqidah Islamiyah. Sedangkan peradaban buatan manusia muncul dari sebuah ideologi, misalnya peradaban kapitalis Barat, yang merupakan sekumpulan konsep tentang kehidupan yang muncul dari ideologi sekularisme. Peradaban semacam ini bisa pula bukan berasal dari sebuah ideologi, melainkan dari kepercayaan kolektif, persamaan bahasa dan ras semisal peradaban Shinto, Yunani, Babilonia, dan Mesir Kuno. Peradaban-peradaban tersebut sekedar merupakan sekumpulan konsep yang disepakati sekelompok manusia, sehingga menjadi sebuah peradaban yang bersifat kebangsaan.

Tokoh Muslim lain, yakni Taqiyuddin an-Nabhani mendefinisikan peradaban (hadharah) sebagai sekumpulan mafahim atau jaringan ide, pemikiran yang dianut dan mempunyai fakta tentang kehidupan. Hadharah bersifat khas, terkait dengan pandangan hidup. Sepertinya definisi an-Nabhani tentang hadlarah (peradaban) mengingatkan kita dengan definisi kebudayaan dalam perspektif semiotis, budaya sendiri hanya salah satu unsur dari peradaban. Sebaliknya peradaban itu terdiri dari konsep yang merujuk pada suatu entitas kultural (budaya) seluruh pandangan hidup manusia yang mencakup nilai, norma, instituisi, dan pola pikir terpenting dari masyarakat yang terwariskan dari generasi ke generasi (Bozeman dalam Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, 1998: 41).

Sintesis dari pendapat Sayyid Qutub dan an-Nabhani, secara sederhana dapat menghasilkan definisi peradaban sebagai sekumpulan konsep dari nilai ruhiah, norma, instuisi dan pola pikir masyarakat yang merujuk pada nilai budaya dan ideologi, yang keduanya itu (budaya dan ideologi) itu saling berkaitan bersamaan dengan ilmu pengetahuan yang sudah terwarisi lintas generasi untuk kemudian membentuk suatu peradaban.

Dengan demikian ilmu pengetahuan dan produknya dari suatu peradaban, baik itu yang “bebas nilai” seperti teknologinya dan yang “bernilai” seperti ilmu-ilmu yang membawa keyakinan suatu peradaban masuk dalam konsep peradaban. Bahkan ilmu pengetahuan adalah pilar peradaban itu sendiri, selain agama (keyakinan) dan karakter bahasa tentunya. Berbeda dengan budaya yang hanya mencakup aspek maknawi dan nilai yang pasti terkait dengan pandangan hidup dan ideologi suatu masyarakat. Ruang lingkup peradaban lebih luas dari budaya. Contoh sederhananya adalah jika membahas “Peradaban Indonesia” berarti membahas pula sosial-masyarakat, hukum-hukum, pandangan hidup, budaya, hingga ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara Indonesia. Sedangkan jika membahas “Kebudayaan Indonesia” hasil-hasil ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan negeri ini masih sangat mungkin untuk tidak dibahas, hanya saja jika hasil iptek tersebut merupakan hasil dari budaya dan produk yang “bernilai” keyakinan bagi masyarakat tertentu seperti patung-patung, barong, atau segala simbol kebudayaan lainnya masih dapat dibahas dalam ruang lingkup kebudayaan.

Dengan melihat paparan definisi peradaban tersebut, pada hakikatnya sejarah umat manusia adalah sejarah peradaban itu sendiri. Sebab tidak mungkin berbicara mengenai sejarah perkembangan manusia yang ada di seluruh penjuru dunia tanpa kajian terhadap ranah-ranah peradaban yang disinggung tadi. Baik itu tinjauan para sosiolog Barat (Durkheim, Mauss, Weber, dan Sorokin), sejarawan (Toynbee, Braudel, dan Wallerstein), maupun antropolog (Kroeber, Eisenstadt, Bozeman, Bagby, coulborn, dan sebagainya). Ekspansi sejarah tidak mungkin lepas dari kajian tentang peradaban bangsa-bangsa di dunia. Baik itu yang sifatnya dinamis dari lahir sampai berkembang maupun peradaban yang mengalami kemunduran hingga kehancurannya.

Bagi sejarawan Inggris, Toynbee, sebuah peradaban yang sedang berkembang merupakan respons terhadap tantangan-tantangan dalam melampaui suatu periode pertumbuhan yang melibatkan kontrol terhadap lingkungan, hasil dari upaya kelompok “minoritas yang kreatif”, kemudian diikuti oleh suatu massa yang menyambut penuh tantangan, namun diikuti pula oleh komunitas bangsa yang universal. Toynbee meyakini bahwa peradaban itu berkembang dan berproses, bahkan bisa dengan sangat lama. Pendapat serupa pun dikemukakan oleh Quigley bahwa gerak perkembangan peradaban melalui tujuh tahapan, yaitu (a) percampuran; (b) pergerakan; (c) perluasan; (d) masa konflik; (e) kekerasan universal; (f) keruntuhan; (g) invasi (Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, 1998:44).

Peradaban itu akan timbul oleh sutu kelompok orang yang “revolusioner”, lalu mengalami kejayaan dan juga kehancurab. Begitu pula dengan peradaban Islam, dari Nabi Muhammad SAW mendirikan Daulah Islam di Madinah, zaman Khulafaurasyidin, dinasti Umayyah, Abbasiah, hingga dinasti Turki Usmani. Peradaban Islam pada masanya merupakan peradaban tertinggi dan merupakan suatu negara yang paling adidaya di masanya, hanya saja setelah Kekhalifahan Turki Usmani melemah dan belakangan dihapus oleh pemerintahan Mustafa Kemal (Attaturk), praktis peradaban Islam menjadi salah satu peradaban yang paling terbelakang, selalu tertindas, dan terjajah, penyebab utamanya adalah umat Islam meninggalkan ajaran Islam itu sendiri, jauh dari tradisi keilmuwan Islam yang menjadi karakter peradabannya serta tidak ada institusi politik serta negara yang menjalankan syariat Islam secara kaffah untuk melindungi kaum muslimin.

Tentu umat Islam di berbagai belahan dunia tidak berdiam diri begitu saja, buktinya sejak dekade 1980 dan 1990 di negara-negara yang mayoritas Muslim terjadi momentum islamisasi masyarakat besar-besaran dalam berbagai bentuknya. Ada yang mengemban visi dan misi peradaban Islam melalui ilmu, ada yang melalui aktivitas sosial-politik, kultural dan tidak ketinggalan ada yang melalui islamisasi ekonomi di mana kian hari ekonomi syariah kian menggema, tidak hanya di negeri Islam tapi juga di Eropa. Menjadi Khoiru Ummat merupakan status wajib kaum Muslimin setelah lama menjadi masyarakat yang terbelakang dan tertindas di mana-mana. Umat yang disebut Allah SWT sebagai “umat terbaik” ini harus sadar diri dan kembali menjadi yang terdepan.

Walau begitu, peradaban Islam kadang harus berbenturan dengan peradaban Barat baik lewat peperangan dan konflik, maupun dengan benturan visi-misi, nilai maupun kepentingan. Terkait benturan yang sifatnya fisik, ini pernah diungkapkan Samuel P. Huntington, dalam The Class of Civilization. Huntington, yang menulis untuk Jurnal the Foreign Affairs, menyatakan:
“Peradaban itu berbeda satu sama lain….karena faktor sejarah, kultur, tradisi, dan-yang paling penting-agama. Orang-orang yang berasal dari peradaban yang berbeda memiliki pandangan yang berbeda pula tentang hubungan antara Tuhan dan manusia, individu dan kelompok, warga dan Negara, orangtua dan anak, suami dan istri; juga pandangan yang berbeda tentang arti relatif dari hak asasi dan tanggung jawab, kebebasan dan otoritas, persamaan dan hirarki”

Lebih lanjut dikatakannya, “perbedaan tidak mesti konflik dan konflik tidak mesti berarti kekerasan. Namun demikian, selama berabad-abad, perbedaan di antara peradaban telah menimbulkan konflik yang paling keras dan paling lama.”

Akan tetapi, setelah mengamati kenyataan sejarah selama berabad-abad, begitu pula kecenderungan politik yang terjadi pada abad ini, pada akhirnya, Huntington memprediksi bahwa, “Suatu hal yang amat krusial dan mendasar, tentang apa yang muncul di dalam politik global pada tahun-tahun mendatang, adalah konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan di antara dan di kalangan peradaban-peradaban.” Maka benturan dan konflik baik yang sifatnya fisik, visi, pemikiran, nilai-nilai maupun kepentingan antar identitas diprediksi akan meramaikan panggung politik global. Apalagi geliat peradaban Islam dan China, dua peradaban yang dinilai Huntington paling berpotensi menggeser peradaban Barat, semakin menunjukan eksistensinya. Tinggal nanti akan terseleksi, mana peradaban yang memiliki visi dan misi yang terbaik dan berguna bagi umat manusia. Kita lihat saja.

Oleh: Ilham Martasyabana, penggiat sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *