Fitnah, Pesantren Sumber LGBT

by
foto:istimewa

Deprecated: implode(): Passing glue string after array is deprecated. Swap the parameters in /home/wartapil/public_html/wp-content/themes/majalahpro/inc/template-tags.php on line 727

Oleh : Dr Adian Husaini

Pada kesempatan Klinik Pendidikan Kita kali ini, Dr Adian membantah pendapat seorang dosen yang mengatakan bahwa pesantren sumber LGBT. Pesantren sangat keras sikapnya pada hubungan di luar nikah, apalagi LGBT. Silakan menyimak :

Wartapilihan.com, Depok –Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, teman-teman kita bertemu lagi di KLIPIK. Hari ini kita akan membahas apakah benar pesantren itu sumber LGBT. Saya termasuk yang diminta menjadi saksi ahli di Mahkamah Konstitusi terkait gugatan di Aila (Aliansi Cinta Keluarga) di KUHP agar diperluas maknanya, bukan hanya homo dan dewasa dan dewasa belum termasuk kriminal, makanya minta diperluas. Namun, hasil akhirnya lima hakim tidak setuju dengan gugatan ini.

Ketika di Mahkamah Konstitusi saya menceritakan fakta-fakta yang terjadi perkembangan LGBT di Malaysia, Amerika, dan beberapa negara yang lain itu dampaknya serius dalam dunia pendidikan, jika tidak dinyatakan sebagai salah satu bentuk kriminal itu yang kita minta pada Mahkamah Konstitusi. Namun, MK melimpahkan itu pada lembaga legislatif. Konon, pasal-pasal perzinahan dan homo ini akan dimasukkan dalam suatu bentuk kejahatan atau pidana. Sebagai orang yang hidup di dunia pesantren bertahun-tahun, jika ada yang melakukan tindakan asusila meskipun bukan homo akan langsung dikeluarkan dan diberi sanksi yang tegas.

Pesantren anak saya sangat tegas menanggapi hal-hal semacam itu, akan dilaporkan dan diusir dari pesantren. Hal ini berbeda sekali dengan opini yang bilang bahwa pesantren itu sarang homo dan LGBT itu tidak benar. Kasus bisa terjadi dimana saja bahkan saya mendengar ustadz pimpinan ponpes tahfidz (menceritakan) bahwa ada santrinya punya kecenderungan sesama jenis dan jujur sama kyai bahwa dia sukanya sama laki-laki. Santri ini dengan tulus berjuang menghafal Qur’an sehingga suatu hari ketika rihlah di puncak, santri ini berteriak “Allahu Akbar” karena akhirnya bisa suka dengan perempuan.

Ternyata, dengan mujahadah dan dzikir bisa mengubah orientasi seksualnya. Pendidikan di pesantren justru bisa menyembuhkan ketika anak ini sungguh-sungguh. Saya beberapa kali diundang pemerintah Malaysia untuk mengisi seminar LGBT dari tahun 2010-2013. Dalam sebuah sesi pelatihan saya dipanggil oleh seorang mantan homo yang ketika di sekolah dia suka dengan perempuan, namun karena kondisi keluarga yang tidak harmonis dengan ayahnya, dia menjadi berubah. Suatu hari dia menyendiri di kamar dan membuka internet dan terhubung dengan komunitas homo dan akhirnya dia merasa senang dan terseret hingga orientasi seksualnya berubah. Namun, dia berjuang untuk menyembuhkan orientasi seksualnya yang menyimpang.

Kasus ini jadi contoh seseorang yang “lapar” kasih sayang seorang ayah bisa membuatnya mencari kasih sayang yamg hilang dengan sesama laki-laki. Penanggulangan LGBT ini tidak cukup hanya dengan keluarga maupun negara. Di Malaysia LGBT merupakan tindak kejahatan yang diistilahkan dengan sodomi. Meskipun negaranya tegas tapi sekolah dan keluarganya tidak tegas dan serius dalam menanggulangi LGBT, maka masih bisa terjangkit LGBT. Apalagi jika keluarga dan sekolah tidak peduli, apalagi negara membiarkan hukum yang menindak ini, itu akan lebih parah lagi.

Kita tidak ingin ke depan generasi yang kita punya menjadi generasi yang lemah. Bayangkan jika yang menjadi panglima TNI adalah LGBT. Kita harus mencegah hal-hal seperti itu. II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *