Digital Detok, Mungkinkah ?

by
foto:istiewa

Oleh Asep Abdurrohman (Mahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Wartapilihan.com, Jakarta –Disadari atau tidak, penggunaan HP di era digital ini, sudah menjadi pemandangan umum yang lazim kita temukan dimana-mana. Saat berbincang dengan teman-teman sekantor, tangan tak lepas dari HP. Pulang kerja sampai rumah, mandi, makan sambil membuka informasi dari HP.

Naik angkutan umum, duduk di kursi, mata khusuk menatap alat elektroniknya. Saat berada di kelas, walaupun HP ditaro di saku, tangan selalu gatal ingin menyentuhnya. Ditempat-tempat umum sibuk berjibaku dengan kotak ajaibnya.

Memang, Kesadaran manusia modern telah menemukan momentumnya. Kebutuhan akan barang elektronik itu, sudah menjadi barang wajib sebagai manusia era digital. Bahkan mengalahkan urusan perut sekalipun.

Bukan manusia modern namanya, jika tidak memiliki barang canggih tersebut. Anak-anak kecil di bawah umur pun dengan pasih dan tangan terampil begitu lancar memainkan perangkat modern itu. Remaja, muda bahkan kalangan tua tak mau ketinggalan.

Tidak peduli mahal atau tidak, yang penting memiliki HP Smartphone. Baik dengan cara angsur maupun cash tak lagi dipermasalahkan. Yang penting saat berkumpul di kantor, bersama teman-teman, keluarga, tetangga, rekan bisnis, terlihat mempunyai HP smartphone.

Saat hingar-bingar penggunaan HP smartphone yang sudah menggejala dimana-mana, timbul kejenuhan dan kebosanan ingin melepaskan ketergantungan pada HP. Memberikan hak kepada tubuh untuk memperbaiki system saraf yang kehilangan keseimbangannya. Tetapi mungkinkah bisa dilakukan ?. Semua berpulang bagaimana kita mengkondisikannya.

Paradoks Digital Detox
Digital detok adalah menjauhkan teknologi sejenak untuk memberikan kesempatan kapada tubuh, dalam upaya mengatur ritme tubuh agar kembali normal. Digital detok ini, pertama kali diperkenalkan oleh Kate Unsworth pada tahun 2015 sebagaimana di kutip laman www.science.idntimes.com.

 

Masalah itu muncul, saat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Kesibukan itu tidak saja terbatas pada waktu-waktu istirahat, tetapi saat waktu kerja pun terlihat masih menggunakan HP smartphone.

Realita ini, tidak bisa kita pungkiri sebagai manusia yang hidup era digital, tidak dapat menghindar dari godaan HP smatphone.

Godaan itu, tidak hanya menyerang warga yang tinggal di kota saja. Warga desa pun setali tiga uang, mengalami hal sama. Penulis pernah melihat warga desa membeli HP smartphone di sebuah counter HP, di bilangan Kabupaten Tangerang dengan mengeluarkan uang kusut dan kumel.

Usut punya usut, berdasarkan pengakuan pembeli, ternyata uang kusut dan kumel tersebut di dapatkannya dari hasil menabung selama satu tahun lebih. Setelah selesai transaksi, saya menyempatkan berbincang sejenak dengan seorang Ibu sambil membawa anak berusia belasan tahun.

HP Smartphone yang sudah dibeli sama Ibu rumah tangga itu, Ia kasihkan untuk anak tercintanya yang sudah satu tahun menunggu dan baru kali ini ibu tersebut bisa membelinya. Inilah jeritan keluarga di desa ,yang ingin seperti warga kota memiliki perangkat komunikasi canggih.

Kehadiran HP Smartphone memang memberikan dampak luar biasa terhadap gaya hidup masyarakat. Dampaknya pun masuk kesemua lapisan masyarakat. Kesetiap profesi pekerjaan. Termasuk ke berbagai momen penting sakalipun.

Dilihat dari aspek kesehatan, intensitas penggunaan HP dapat menimbulkan masalah gangguan kesehatan. Salahsatunya adalah tech-neck yang memberi beban lebih pada bagian pundak dan leher. Yang kemudian menjalar ke kepala sampai mengalami pusing yang hebat seperti chepalgia.

Dari segi sosial, penggunaan HP yang tidak terbatas ruang dan waktu. Memberikan kerugian yang tidak sedikit. Bagi orang yang bekerja di perkantoran, bermain HP pada saat kerja akan dianggap oleh pemilik perusahaan, tidak serius dalam bekerja yang berujung pada pemecatan.

Begitupun bagi pelajar, mahasiswa, dosen, Guru, orangtua, tokoh masyarakat, Ulama, pejabat tinggi, sampai pekerjaan rendahan menuai dampak yang tidak sedikit kerugiannya. Terlepas kelebihan yang memudahkan bagi sebagian masyarakat yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi tersebut.

Seperti usaha yang bergerak di bidang di transportasi daring dan pelaku bisnis online, yang kini sedang merebak dimana-mana, bagaikan jamur tumbuh pada saat musim hujan. Kenyataan ini, lama-lama memberikan rasa kejenuhan dan kebosanan yang luar biasa.

Betapa tidak, tiap hari kita selalu menyaksikan setiap individu masyarakat sibuk dengan dunia sendiri. Kesempatan bertegur sapa pun sebagai makhluk sosial tak terhidarkan lagi. Padahal disanalah manusia membutuhkan jaringan sosial untuk keberlangsunga hidupnya.

Hal ini jadi paradok bagi masa depan digital detox. Ibaratnya maju kena, mundur pun kena. Berada ditengah-tengah kebingungan antara memakai atau menghentikan. Antara menggunakan atau meninggalkan. antara berinterkasi dengan sesama warganet atau meninggalkan interkasi dengan dunia nyata.

Kebutuhan Digital Detox

Saat kondisi menimpa sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Maka pada titik itulah, setiap individu masyarakat membutuhkan digital detok. Menghentikan atau menjauhkan sementara penggunaan teknologi informasi yang sudah membawanya ke dalam dunia sempit. Seolah-olah dunia hanya terbatas pada perangkat canggih tersebut.

Banyak manfaat yang bisa kita rasakan setelah mempraktikkan digital detox. Menurut hasil penelitian seperti yang disebutkan di www.science.idntimes.com, dapat memberikan berbagai macam manfaat.

Diantaranya; melepaskan informasi yang membingungkan, sehat secara sosial, peka membaca arah, mengurangi paparan gelombang elektromagnetik, kehidupan lebih menantang, lebih mengenal diri sendiri, kreatif, membangun paradigma baru, daya ingat meningkat, tidur lebih nyenyak, alergi sinyal, pusing, jari-jari tangan kaku, mengganggu ritme detak jantung sampai gangguan tidur dan nafsu makan.

Sisi lain penelitian dalam hal daya ingat membuktikan bahwa menggunakan teknologi untuk mengingat setiap detil dalam kehidupan sehari-hari, secara tidak langsung melumpuhkan kemampuan prefrontal cortex otak. Memutus sementara ketergantungan terhadap teknologi secara tidak langsung mengaktifkan kembali prefrontal cortex otak untuk mengelola informasi sehingga daya ingat menjadi lebih kuat.

Sementara sinar pada monitor HP yang dipublikasikan di royalsocietypublishing.org, otak manusia memiliki kapasitas tertentu sehingga tidak dapat memproses terlalu banyak hubungan di dalamnya. Secara alami, ukuran grup pertemanan manusia hanya berkisar di angka 100 hingga 200 orang saja. Sisanya hanyalah kerabat atau orang yang pernah kita temui tanpa kenali dengan dekat.

Dilihat dari segi sosial, manusia bukanlah makhluk yang bisa menjalani hidup sendirian. Terlebih di era serba instan dan keterbukaan informasi ini, kebutuhan adanya bantuan orang lain semakin tak terbantahkan.

Bukti autentik, manusia tak sanggung hidup sendiri, adalah pakain yang kita kenakan sehari-hasil desain tukang jahit. Nasi yang kita makan, hasil para petani menanam padi. Dan manusia hidup sendirian tanpa pasangan sungguh sangat mengerikan.

Meskipun pada kenyataannya, ada sebagian kecil manusia, yang sanggup hidup menyendiri tanpa memerlukan pasangan hidup. Tapi percayalah kegelisahan dan kesepian hanya akan datang kepada orang hidupnya menyendiri.

Melihat kenyataan di atas, digital detox merupakan sesuatu yang sangat mungkin dibutuhkan oleh masyarakat. Agar keadaan fisik dan jiwa, bisa kembali ke alam fitrahnya, seperti ketika manusia dilahirkan alam rahim ke Bumi. II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *