Desakralisasi Teks

by
foto:istimewa

Bagi seorang muslim kepentingan dalam pengetahuan adalah ibadah. Adapun kalau ada individu-individu yang jauh dari al-haq lalu membelokkan pengetahuan untuk kepentingan tertentu, itu terlepas dari ilmu pengetahuan Islam. Tapi kalau kepentingan adalah masalah besar, bukankah postmodernisme sendiri bias dengan kepentingan?

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa konsep jihad dapat ditafsirkan dengan orientasi keadilan dan kebenaran. Caranya adalah dengan memahami teks itu sendiri sesuai dengan maknanya yang benar.

Adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya/proporsinya. Kita tidak bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya jika kita tidak tahu ilmu tentang sesuatu itu dan bagaimana meletakkan sesuatu secara benar dan tepat. kita tidak akan dapat mengorientasikan “Jihad Intelektual” kepada kebenaran kalau kita tidak mengetahui ilmu untuk menuju kebenaran itu.

Kalau ingin membawa tafsir jihad supaya lebih toleran, pertanyaannya adalah apa dasar toleransi itu? karena kepentingan nasional, kepentingan kerukunan beragama, kepentingan keselamatan masyarakat atau apa?

Benar jihad intelektual lebih mulia ketimbang jihad fisikal, tapi perlu diingat bahwa qital memerangi orang yang memerangi Islam dan umatnya tidak dapat dihapuskan karena kemuliaan jihad intelektual.

Walaupun Nabi tidak pernah melarang orang berperang dan menggantikannya dengan jihad intelektual. Masing-masing amal memiliki maqamnya sendiri-sendiri. Bahkan pengusaha yang jujur dan saleh adalah sejajar dengan syuhada dan siddiqin. Tapi nabi tidak lantas menyuruh semua orang berbisnis secara jujur dan meninggalkan amal yang lain.

Walhasil, sekarang dengan tanpa mengecilkan dan menafikan adanya jihad secara fisik, bagi kalangan umat Islam tertentu adalah berjihad secara intelektual adalah penting. Jihad intelektual yang sangat urgen sekarang ini adalah memerangi pemikiran-pemikiran yang “menyesatkan”, memerangi syirik intelektual, memerangi deviasi-deviasi pemahaman din, memerangi keraguan, dan memberi pencerahan dengan merujuk kepada al-Qur’an dan hadis untuk dipahami dalam konteks zaman sekarang. II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *