Desakralisasi Teks

by
foto:istimewa

Arti dekonstruksi yang dimaksud Derrida adalah bahwa dalam mendekati suatu teks kita harus skeptis dan maksud penulis teks tidak perlu diutamakan, yang ada hanyalah kesempatan untuk menafsirkan atau mengomentari teks secara tanpa ada batasan. Ide ini tidak saja cocok dengan doktrin relativisme tapi yang penting adalah Penolakan Kebenaran Transendental (termasuk disini adalah kebenaran adanya Tuhan).

Atas dasar latar belakang doktrin-doktrin Postmodernisme itulah kalangan liberal mencoba manawarkan dekonstruksi tafsir Jihad. Tapi sebelum menerapkan doktrin Postmodernisme ini kedalam Islam, terlebih dahulu Muslim liberal menggiring kita kepada konklusi tentang perlunya menerapkan doktrin dekonstruksi Derrida dengan mengenalkan kita pada premis-premis yang cukup mengejutkan:

Bahwasannya umat Islam seringkali mempraktekkan Jihad sebagai perang suci (Holy War) atas nama agama dan Tuhan. Bahwa studi hukum Islam menampilkan sikap kejam sehingga berakibat pada sakralisasi teks. Hukum Islam dulunya adalah relatif, kini diperlakukan sebagai sakral dan absolute.
Kedua premis sering kita dengar keluar dari mulut orientalis. Perang atas nama Agama seakan-akan dianggap sebagai naive dan sektarian, padahal dari dulu sampai kapanpun perang dalam Islam harus atas nama Agama dan Tuhan atau berdasarkan perintah Tuhan.

Istilah Holy War itu yang paling ditakuti Barat sehingga melahirkan cap kejam pada Islam, image bahwa Islam identik dengan perang suci, fundamentalis, terorisme, kekerasan dan lain-lain.

Sebagai seorang Mukmin sebaiknya kita memahami Qital atau Jihad al-Asghar seperti apa yang dipraktekkan Nabi. Itulah perintah-perintah yang ada. Perang-perang yang dipraktekkan Rasulullah bukanlah semata-mata dilihat dari nilai historis belaka, tapi adalah aplikasi suatu ketaatan pada teks (wahyu) yang absolut. Meskipun tidak menafikan bahwa jihad intelektual memiliki maqam yang lebih tinggi.

Jadi menurut pendapat penulis premis-premis diatas sudah tidak benar, bagaimana dapat dipakai untuk menggiring kepada perlunya menggunakan doktrin dekonstruksinya Derrida ?

Selanjutnya, apabila jalan keluar yang ditawarkan adalah dekonstruksi tafsir Jihad, maka al-Qur’an diletakkan sebagai teks yang harus diragukan atau dipertanyakan. Tidak peduli bagaimana sejarah teks tersebut dan bagaimana otentisitasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *