Desakralisasi Teks

by
foto:istimewa

Wacana ini sebenarnya merupakan rajutan antara realitas pemikiran Islam dan postmodernisme. Suatu asimilasi yang lucu dan menyesatkan, sebab Islam berangkat dari yang absolute (Wahyu/Allah), melalui jalan metafisika yang jelas sedangkan Postmodernisme berangkat dari penafian yang absolute dan penolakan metafisika.

Cikal bakal Postmodernisme dapat dilacak dari doktrin nihilisme-nya Nietsche atau Heiddeger yang melahirkan statement “God is dead”. Konsekuensi logisnya adalah bahwa God was no longer Supreme Being, but collective reason, God exist within human intelligence. (Alain Finkielkraut, 1995).

Maka dari itu menurutnya ketika metafisik mencapai kebenaran yang dianggap sebagai dari Tuhan (absolute) sebenarnya tidak lain hanyalah sesuatu yang sobyektif yang boleh jadi salah seperti mana suatu pendapat atau kepercayaan. “Kalau kita menolak kesalahan maka kita juga harus menolak kebenaran” kata Nietsche.

Ide nihilisme ini kemudian berkembang menjadi apa yang disebut “Philosophy of Difference”. Doktrinnya: Perbedaan antara benar dan salah, rasional dan irrasional harus dipisahkan dari bahasa atau konsep, artinya semua apa yang kita alami tidak lain hanyalah “Penafsiran”.

Segala sesuatu yang berbeda-beda di dunia ini selalu dapat “ditafsirkan” kedalam terma-terma yang dihasilkan oleh nilai-nilai sobjektif dalam diri kita. Ringkasnya, ide ini berkembang menjadi apa yang disebut sekarang dengan “Hermeneutic” (Filsafat Tafsir). Nihilisme dan Hermeneutic tidak jauh berbeda karena keduanya menawarkan konsep relativitas.

Ernest Gelner penulis Buku Postmodernism, Reason and Religion, mengatakan ciri-ciri Postmodernisme dapat diketahui dari statement bahwa: “Segala sesuatu adalah teks, materi dasar teks, termasuk masyarakat atau apapun juga, adalah arti, dan arti-arti itu harus didekonstruksikan, pernyataan tentang realitas objektif harus diragukan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *