Cemaskan Status Amalan Ramadhanmu, Bukan yang Lainnya

by

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”), Ini peringatan, betapa kita harus mencemaskan amalan Ramadhan kita.

Wartapilihan.com, Depok—Saat Ramadhan usai, bersedihlah. Itu reaksi orang-orang yang mengerti betapa Ramadhan bulan mulia yang penuh berkah. Bahkan ada satu keterangan yang bila orang-orang mengerti keutamaan Ramadhan, tentu mereka ingin semua bulan itu bulan Ramadhan. Catatan pentingnya: “Hanya orang-orang yang mengerti”.

Bagaimana reaksi orang yang belum mengerti? Tentu sebaliknya, ingin  Ramadhan segera berlalu & kalau bisa tidak ada yang namanya bulan Ramadhan. Na’udzubillah…

Hari-hari pasca Ramadhan, kita saling mendo’akan dengan ungkapan indah:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Taqabbalallahu minna waminkum: “mudah-mudahan Allah menerima (amal ibadah) saya dan Anda”.

Atau yang lebih panjang:

Taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘aamin wa antum bi khair

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عاَمٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Artinya kurang lebih “Semoga Allah menerima (amal ibadah) kami dan kamu, Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali fitrah dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu semua senantiasa dalam kebaikan.”

Berapa lama saling men-do’a-kan seperti ini berlangsung? Mungkin 1-2 hari selama libur Idul Fitri. Atau paling lama 1 bulan? Alangkah baiknya kalau dilakukan sesering mungkin, selama mungkin, dan ke sebanyak mungkin orang. Bukankah kita tidak pernah tahu, do’a siapa yang dikabulkan Allah?

Memang, masalah diterima atau tidak diterima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan adalah sesuatu yang gaib yang tidak ditentukan dan tidak dijangkau oleh akal manusia, maka harus ada nash, ayat atau hadits yang menjelaskannya. Demikian nasihat seorang Ustadz.

Jika diteliti ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi saw, tidak dijumpai adanya satu nash pun yang menganjurkan kita berdoa terus selama misalnya 6 bulan supaya amalan Ramadhan kita diterima oleh Allah SWT.

Namun yang ada adalah kebiasaan kaum muslimin di masa sahabat, tabi’iin dan tabi’it tabi’iin (abad ke-1 sampai abad ke-3 Hijriyah) bahwa mereka berdoa selama 6 bulan, sejak bulan Rabi’ul Awwal sampai bulan Sya’ban agar dipanjangkan umur mereka agar dapat bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, dan setelah berpisah dengan Ramadhan berdo’a lagi secara terus-menurus selama 6 bulan sejak bulan Syawal sampai Rabi’ul Awwal, agar dapat diterima puasa dan seluruh amal ibadah mereka di bulan Ramadhan.

Mu’alla bin Al-Fadhl, salah satu ulama tabiu’ tabiin berkata, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264).

Diantara doa yang dicontohkan para sahabat dan generasi-generasi Islam sesudahnya adalah apa yang diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264).

Demikian penjelasan tambahan sang Ustadz.

Bila mempertimbangkan kualitas ke-shalehan pada kaum muslimin abad ke-1 sampai ke-3 Hijriyah, maka kaum muslimin saat ini harusnya lebih bersungguh-sungguh berdo’a, bukan? Harusnya sangatlah cemas, memikirkan apakah amal ibadah selama Ramadhan diterima Allah SWT.  Wallahu a’lam.

Abu Faris,
Praktisi Media sosial tinggal di Depok
https://www.linkedin.com/in/kus-kusnadi-42214635/