Catatan Harian Santri Pristac: Rihlah Ilmiah Malaysia (Hari Ke-2)

by
Kampus ISTAC

Terbangun pukul 5 pagi, ternyata masih sempet siap-siap shalat shubuh (sikat gigi & wudlu aja). Shalat shubuh di Kuala Lumpur pukul setengah enam pagi, bukan jam 4-an seperti di Indonesia.

WartaPilihan,com, KualaLumpur— Setelah shalat shubuh, kami diajak oleh guru kami, Dr. Muhammad Ardiansyah untuk berjalan-jalan keliling kampus. Sebelum kami mulai jogging, Dr. Ardiansyah atau yang biasa kami Sapa dengan Ustadz Ardi bercerita bahwa kampus Islam seperti IIUM ini sempat direncanakan akan dibangun di Indonesia pada tahun 80-1n. Akan tetapi, karena alasan tertentu, tidak jadi. Akhirnya Malaysia-lah yang mengambil kesempatan ini sehingga berdirilah IIUM.

Kami mulai jogging dari masjid, lalu melewati cultural center. Setelahnya, kami berhenti sebentar di depan Kantor Rectory IIUM untuk berfoto (aktifitas wajib itu…hehe). Lanjut ke beberapa fakultas. Saat kami melewati fakultas Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences, kami bertemu seorang ibu-ibu tukang kebun yang mengajak kami mengobrol.

Ternyata beliau adalah orang Indonesia juga! Ia mengaku berasal dari Blitar. “Deket makamnya Pak Soekarno!”, kata beliau. Kemudian kami berjalan dan tiba di depan Library IIUM. Sayangnya, perpustakaannya masih tutup, jadi kami tidak bisa masuk ke dalam. Ustadz Ardi mengarahkan kami kami untuk sarapan dan mandi.

Kami langsung menuju kantin kampus untuk sarapan. Mandinya menyusul….xixixi

Kali ini, kami semua sarapan Nasi goreng, walau dengan lauk yang berbeda. Saya sendiri mengambil lauk Ayam Goreng dengan sedikit kuah gulai. Untuk minumnya, kembali memesan Es Teh Tarik. Pagi itu saya baru tahu, kalau mau pesan Es Teh, jangan bilang ‘Es Teh’ atau ‘Teh Es’. Karena pasti akan dikasih Teh Tarik dingin. Orang Malaysia bilang ‘TO (dibaca: Ti Ow) dingin’ kalau mau Es Teh. Mungkin TO itu singkatan dari Tea Original ya…

Selesai sarapan dan mandi, tujuan kami sekarang adalah ISTAC. International Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization atau yang biasa disingkat ISTAC. ISTAC adalah sebuah perguruan tinggi Islam yang didirikan oleh Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas pada tahun 1989. Perguruan tinggi ini merupakan realisasi dari gagasan Universitas Islam yang beliau gaungkan. Karena satu Dan lain Hal, pada tahun 2002, Prof. al-Attas diturunkam dari jabatannya. Sejak itu pula produktivitas di ISTAC mulai menurun, dan pada akhirnya tutup sekitar tahun 2010.

“Padahal dari kampus ini lahir singa-singa peradaban, walaupun muridnya gak banyak, tetapi mereka jadi orang hebat semua”, kata Ust. Ardi. Salah satu guru kami, Dr. Adian Husaini menyelesaikan program doktoralnya di kampus ini. Begitu juga beberapa cendikiawan Muslim lainnya, seperti Dr. Syamsuddin Arif, Prof. Ugi Suharto, Ust. Adnin Armas M.A., Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.

ISTAC mempunyai dua areal kampus, lama Dan baru. Yang lama terletak di Bukit Damansara dan yang baru terletak di Taman Duta. Areal kampus yang lama sudah jarang terpakai. Banyak dari barang-barangnya yang telah dipindahkan ke area yang baru. Pada tahun 2018 in ISTAC telah dibuka kembali, tetapi namanya berubah sedikit menjadi International Institute of Islamic Civilization and Malay World Dan kepemimpinannya dipegang oleh Prof. Osman Bakar. Di kampus yang baru, kami berkeliling disekitar areal kampus Dan masuk ke dalam perpustakaannya. Untuk menghormati Prof. al-Attas, perpustakan tersebut diberi nama beliau. Menurut brosurnya, perpustakan ini menyimpan 58.887 buku dalam koleksi umum, 6.148 koleksi rujukan, 20.084 jurnal, 17.922 sumber dalam bentuk microfilm. Di bagian koleksi khusus, terdapat 45.518 buku-buku yang berasal dari perpustakan cendikiawan terkenal seperti Bertold Spuler, Andre dan Oleg Grabar, Fazlur Rahman, Robert Brunschvig, Dietrich Bradenburg, Max Weisweiler, Abdul Rahman Baker, dsb. Perpustakaan ini sangat luas dan terdiri dari empat lantai.  Satu lantai atas, satu lantai dasar, dan dua lantai bawah.

Tanpa Prof. al-Attas, menurut Ust. Ardi, ISTAC adalah bangunan tanpa jiwa. Karena Prof. al-Attas-lah yang merancang konsep ISTAC, mulai dari bangunan sampai kurikulumnya.

Dari ISTAC kami berangkat lagi ke Istana Negara. Kami hanya berkunjung sebentari di Istana Negara. Karena selain tidak banyak hal yang bisa dilakukan di sana, cuacanya sangat panas. Jadi kami hanya berfoto saja di beberapa spot. Setelahnya, kami pergi ke Musium Negara. Musium ini menjelaskan tentang sejarah Malaysia, etnis-etnis di Malaysia dsb.

Karena waktu telah mendekati Zuhur, kami memutuskan untuk pergi ke Masjid. Masjid yang dituju Kali ini adalah Masjid Wilayah. Masjid Wilayah Persekutuan dibangun antara tahun 1998 sampai 2000. Gaya arsitekturnya merupakan percampuran antara Utsmaniyah Dan Melayu yang sangat terinspirasi dari Masjid Biru di Istanbul, Turki. Masjid in dapat menampung 17.000 jama’ah dalam satu waktu, begitulah menurut Wikipedia.

Setelah shalat Zuhur Dan Ashar di jama’, kami pergi untuk makan siang di food court yang tidak jauh dari sana. Kami makan di salah satu warung yang ternyata penjualnya orang Indonesia. Selepas makan, kami pergi ke Little India. Disana kami dibebaskan untuk pergi di sekitar area tersebut, dengan syarat kami berkumpul kembali jam 5 sore di meeting point yang telah ditentukan.

Walaupun telah dilepas untuk berpencar, pada akhirnya kami pergi ke tempat yang sama. Kami semua masuk ke department store yang bernama Haniffa. Kalau dibandingkan mungkin mirip Matahari di Indonesia. Kami berkeliling di department store bertingkat empat tersebut. Setiap lantai menjual kategori barang yang berbeda Dan memiliki kasir masing-masing. Di Haniffa saya tidak membeli apa-apa, walau Ada beberapa teman yang berbelanja. Karena masih Ada waktu tersisa untuk berkeliling, saya memutuskan jalan-jalan lagi bersama beberapa teman.

Eh, ketemu tukang gorengan. Dan kami membeli gorengan di situ. Ternyata, lagi-lagi ibu penjualnya adalah orang Indonesia. Walau si Ibu mengaku beliau hanya seorang ‘kuli’ (karyawan). Saya membeli gorengan seharga 6 RM. Lanjut ke Dataran Merdeka. Dataran Merdeka, seperti namanya, adalah tempat dimana Malaysia menyatakan kemerdekaannya atas Inggris pada 31 Agustus tahun 1957.

Ketika kembali ke UIA, waktu sudah Maghrib. Kami shalat Maghrib dan Isya’ dijamak. Setelah shalat kami reuni kecil-kecilan dengan Dr. Alwi Alatas. Dr. Alwi Alatas adalah sejarawan Muslim yang menyelesaikan program Master Dan Doktoralnya di UIA. Beliau pernah mengajar Sejarah Peradaban Islam di Pondok Pesantren At-Taqwa selama Dua tahun sebelum akhirnya pindah mengajar sebagai dosen Sejarah di UIA bulan Juli kemarin. Beliau bertanya kepada kami tentang perkembangan pesantren dll, sebagai gantinya beliau pun bercerita suka dukanya mengajar di UIA selama Lima bulan terakhir. Dibanding At-Taqwa yang hanya memiliki sedikit santri, Ust. Alwi mengaku agak kesulitan mengajar di kampus Karena banyaknya mahasiswa, jadi beliau harus mengajar di banyak kelas dan mengecek serta memberi nilai untuk banyak mahasiswa.

Kemudian, Ust. Alwi menjelaskan struktur area kampus UIA yang terdiri dari tiga ring. Ring pertama terdiri dari area Masjid Dan kantin. Ring kedua terdiri dari kampus-kampus Dan fakultas-fakultas. Terakhir, ring ketiga terdiri dari mahallah alias asrama mahasiswa Dan sport complex. Setelah berbincang-bincang sebentar, kami pamit kepada Ust. Alwi untuk makan malam.

Seperti biasa kami makan di kantin kampus dan setelahnya saya bersiap-siap untuk tidur.

 

 

 

30 November 2018

M. Faris Ranadi (Santri PRISTAC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *