Berhakkah Banser Melarang Penceramah?

by
foto:istimewa

Di beberapa daerah Banser (dan Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama) melakukan pelarangan terhadap penceramah. Berhakkah mereka melarang? Bagaimana Islam melihat kebebasan berpendapat?

Wartapilihan.com, Jakarta –Sebagaimana diketahui UUD 1945 menjamin kebebasan berpendapat. Maknanya secara mendasar di negeri ini tidak boleh ada pelarangan orang untuk mengeluarkan pemikirannya. UU tentang ujaran kebencian banyak dikritik oleh beberapa ahli hukum hukum, karena mengandung pasal karet. Apalagi di zaman internet seperti ini, ribuan ujaran kebencian tiap hari bersliweran di media-media sosial.

Karena itu, tokoh-tokoh Islam dulu dari kalangan Masyumi (NU-Masyumi bersatu 1945-1952) menyambut baik adanya pertarungan pendapat yang keras di Majelis Konstituante 1957-1959. Dari kalangan nasionalis sekuler, non Islam dan juga PKI tampil menyampaikan pendapatnya. Saat itu tokoh-tokoh Islam menginginkan negara ini berdasarkan Islam, tokoh-tokoh lain menginginkan dasar negeri ini Pancasila dan sebagaian yang lain sosial ekonomi (yang adil dan makmur). Beberapa kali voting sidang dilaksanakan, tidak mencapai kuorum. Sehingga akhirnya para ulama mengusulkan jalan keluar kepada Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Yang salah satu isinya yang penting menyatakan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 (Pancasila).  Dan itulah kini yang menjadi dasar negara kita.

Mereka beradu argumen dengan keras disitu, tanpa takut untuk ditangkap oleh aparat negara atau dihukum. Memang untuk mencapai pendapat yang terbaik, kemerdekaan berpendapat mesti dibudayakan. Negara akan menjadi maju dan besar, bila masyarakat tidak dihantui ketakutan dalam dirinya.

Di zaman internet sekarang ini, kebebasan berpendapat sulit untuk dibatasi. Satu orang bisa mempunyai grup-grup diskusi yang anggotanya ribuan. Banyak orang beradu argumen atau berkelahi lewat internet sekarang. Sebagian orang membatasi diri ikut grup-grup di media sosial, karena khawatir akan berkelahi dengan teman sendiri, karena sifat komunikasi tulisan yang menyentuh akal saja, tidak menyentuh ‘perasaan’.

Bagaimana Islam memaknai kebebasan berpendapat ini?

Bila kita melihat Al Quran, maka Al Quran membuka luas kebebasan berpendapat. Bahkan ketika Allah mencipta Iblis, malaikat dan manusia, Allah membuka kebebasan berpendapat itu. Lihatlah dialog Allah dengan Malaikat dalam surat al Baqarah :

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al Baqarah 30)

Di sini Allah membuka diri, ketika malaikat menyampaikan protesnya. Melihat ‘argumentasi Allah’ yang Maha Hebat itu, malaikat langsung patuh kepada-Nya.  Berdasarkan ayat ini manusia diturunkan Allah di muka bumi untuk membuat perdamaian dan kemakmuran.

Beda dengan Iblis, yang melihat firman Allah itu tetap membandel, dan menyombongkan diri.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah dia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Dan lihatlah dialog Iblis dengan Allah SWT dalam surat Shad 72-82 :

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat-malaikat itu sujud semuanya.  Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas (yang diikhlashkan Allah) di antara mereka.”

Melihat ayat-ayat ini, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kemerdekaan berpendapat atau kebebasan berpendapat itu berhenti ketika seorang Muslim mendapatkan firman Allah SWT langsung lewat Al Quran atau lewat Rasulullah saw. Di luar itu, seorang Muslim diberikan kebebasan Allah seluas-luasnya dalam rangka mewujudkan perdamaian dan kemakmuran di muka bumi ini.

Karena itu kita dapati di zaman Rasulullah dan sahabat, kehidupan egaliter (demokratis) terjadi. Rasulullah misalnya minta pendapat sahabat mengenai peperangan yang terjadi (karena kaum kafir memerangi Rasulullah lebih dahulu) dan Rasulullah berdialog dengan orang-orang kafir untuk mengajaknya kepada Islam. Sayyidina Umar terkenal dengan kisahnya dikritik keras oleh sahabatnya (‘pedang akan menebas lehermu’) bila Umar tidak menerangkan tentang kain yang dipakainya. Saat itu di masa Umar, Umar membagikan kain sepotong kepada seluruh rakyatnya. Umar yang berbadan besar, harus memakai kain dua potong padahal jatahnya cuma sepotong. Akhirnya jatah sepotong anaknya lagi ia ambil.

Menarik pendapat tokoh Masyumi, Muhammad Natsir, ketika menyatakan bahwa semua bisa dimusyawarahkan kecuali yang sudah pasti terdapat dalam Al Quran dan Sunnah.

Maknanya seorang Muslim tidak akan bersuara untuk mendukung perzinahan, pelacuran, judi, minuman keras, pornografi, pembunuhan manusia semena-mena, korupsi dan hal-hal yang merusak manusia lainnya. Karena ada kaidah syar’i yang menyatakan bahwa apa yang (tegas) dilarang syariat Islam itu akan membawa kerusakan manusia dan apa yang (tegas) diperintahkan, itu membawa maslahat manusia. Dan para ulama/cendekiawan Islam dari zaman ke zaman, telah menggali hikmah syariah itu dari lima hukum Islam (haram, halal, mubah, makruh, sunah) secara luas.

Natsir, ketika hidup cukup sedih dengan perpecahan yang terjadi antara Masyumi dan NU. Dan ketika Masyumi yang dipimpinnya dibubarkan oleh Presiden Soekarno (1960), ia dan teman-temannya kemudian mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Mantan Perdana Menteri RI ini juga mengajak kepada tokoh-tokoh Nahdhatul Ulama untuk bersatu dalam Forum Umat Islam untuk memecahkan masalah bangsa.

Semasa hidupnya Natsir berkawan akrab dengan tokoh-tokoh NU KH Wachid Hasyim, KH Masykur dll  dan berhubungan baik dengan kaum non Muslim di negeri ini.  Natsir ingin kaum Muslim Indonesia bersatu, memajukan negeri ini berdasar Al Quran, Sunnah dan ijtihad ulama (cendekiawan Islam) yang shalih (sebagaimana Masyumi dan NU bersatu 1945-1952).

Jadi, saatnya saat ini Banser atau sebagian kalangan Nahdhatul Ulama membuka diri. Bila ada penceramah yang mengisi acara –misalnya Felix Siauw atau Bachtiar Nasir- tidak usah diusir. Lebih baik dengarkan, ajak dialog atau kalau mereka menyuruh kepada kerusakan di negeri ini, laporkan saja pada polisi. Bagaimana kita tahu penceramah-penceramah itu melakukan kerusakan di negeri ini, sementara ia belum berceramah? Dan bukankah hukum itu bisa diterapkan setelah kejadian, bukan sebelum kejadian?

Al Quran mengajarkan kepada kita kemuliaan ukhuwah Islamiyah. Firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujurat 10)

“Perumpamaan orang mukmin dalam menyayangi dan mengasihi ibarat sebuah tubuh. Jika salah satu anggota terasa sakit, maka sakit itu akan menjalar ke seluruh tubuh, seperti demam dan tidak bisa tidur.” (HR Bukhari Muslim)

Kaum muslim diajarkan oleh Al Quran untuk secara cermat dan pintar memilih pendapat atau pemikiran. Memilih pendapat yang terbaik, itulah yang dianjurkan Al Quran. Bukan secara emosional, melarang, menolak atau menutup telinga. Perhatikanlah dengan seksama pesan Al Quran yang mulia : “Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk Allah dan mereka itulah Ulil Albab (kaum terpelajar).”  QS. Az Zumar 18. II

Nuim Hidayat Dachli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *