Apakah Boleh Menjamak Shalat bagi Pengantin Wanita?

by
foto:istimewa

Oleh: Vicky Afri Pratama, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Make up atau merias diri terutama pada wajah tidak lepas dari istilah wanita. Setiap wanita pasti ingin tampil cantik dan menarik di setiap momen yang dianggap spesial bagi mereka. Dan pernikahan merupakan salah satu momen spesial bagi setiap orang, terutama bagi seorang wanita, karena di momen ini pengantin wanita akan dirias dan di make over menjadi lebih cantik dari sebelumnya.

Wartapilihan.com, Jakarta — Jika pengantin wanita sudah dirias dan di make over bersama accessories-accessories yang serba blink-blink sepanjang acara berlangsung maka bagaimana yaaa ibadah sholat mereka? Nahh, disini kita akan mengetahui bagaimana sih pandangan Islam terhadap pelaksanaan shalat seorang pengantin wanita yang sudah dirias dan dipakaikan accessories pengantin.

Seperti yang kita ketahui bahwa ibadah shalat fardhu itu wajib dilaksanakan bagi seluruh umat Islam sesuai ketentuan batas waktu yang sudah ditetapkan. Namun, ada beberapa keringanan dalam pelaksanaan ibadah shalat fardhu, seperti sebagian ulama berpendapat bahwa shalat dapat dijamak (diringkas dalam satu waktu) ketika ada uzur atau halangan tertentu. Berikut pendapat para ulama mengenai hukum menjamak shalat :

1. Menurut fuqaha Hanafiyah shalat tidak boleh dijamak dengan alasan apapun karena waktu sholat sudah ditentukan waktunya masing-masing, sebagaimana firman Allah Swt. yakni Q.S. An-Nisa’ ayat 103:

فَاَقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ‌ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتۡ عَلَى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ كِتٰبًا مَّوۡقُوۡتًا…

“Sungguh sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”
Namun, fuqaha hanafiyah membolehkan menjamak shalat ketika sedang menunaikan ibadah haji di Arafah dan Muzdalifah, karena Rasulullah Saw. Melakukannya (pendapat ini berdasarkan H.R. Bukhari dan Muslim)

2. Menurut fuqaha Maliki shalat boleh dijamak ketika ada uzur tertentu antara lain: bepergian (jauh atau dekat), hujan, sakit, wukuf di Arafah, berada di Muzdalifah, dan berada dalam keadaan yang sangat gelap.

3. Menurut fuqaha Syafi’iyah hal-hal yang membolehkan menjamak shalat antara lain: bepergian jauh (90 km lebih), hujan lebat, dan ketika sedang melaksanakan ibadah haji di Arafah dan Muzdalifah.

4. Menurut fuqaha Hanabilah berpendapat bahwa hal-hal yang membolehkan menjamak shalat ada tujuh antara lain: bepergian jauh (70 km lebih), sakit, ibu yang menyusui, tidak mampu bersuci (wudhu dan tayammum), tidak bisa mengetahui waktu sholat, wanita yang istihadhah (mengeluarkan darah terus menerus), dan uzur yang lainnya seperti khawatir keselamatn diri dan hartanya, atau pekerja berat yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannaya. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. shalat bersama kami di madinan dengan menjamak shalat zuhur dan asar dan shalat maghrib dengan isya. (H.R Muslim) dan Muslim menambahkan “bukan karena takut dan bukan karena bepergian.”

5. Kemudian dapat disimpulkan bahwa menurut jumhur ulama (mayoritas ulama mazhab) membolehkan menjamak shalat ketika ada beberapa uzur (halangan) tertentu seperti yang sudah dijelaskan di atas, sehingga mayoritas ulama tidak membolehkan menjamak shalat bagi pengantin wanita yang sedang dirias. Namun, ada beberapa ulama yang membolehkannya (bersumber dari kitab Bughyatul Mustarsyidin hal. 77) diantaranya:

لنا قول بجواز الجمع فى السفر القصير اختاره البندنيجي وظاهر الحديث جوازه ولو فى الحضر كما فى شرح مسلم وحكى الخطابي عن ابى اسحق جوازه فى الحضر للحاجة وان لم يكن خوف ولا مطر ولا مرض وبه قال ابن منذر(بغية المسترشدين ص 77)

Artinya: “kami berpendapat boleh menjamak shalat bagi orang yang menempuh perjalanan pendek yang telah dipilih oleh Syekh Albandaniji. Sebuah hadis dengan jelas memperbolehkan menjamak shalat bagi orang yang bukan dalam perjalanan sebagaimana yang tercantum dalam Syarah Muslim, Alkhatthabi menceritakan dari Abu Ishaq tentang deperbolehkannya menjamak shalat dalam perjalanan pendek karena suatu keperluan atau hajat meskipun tidak dalam kondisi terancam, hujan lebat, dan sakit. Ibnu Munzir juga sependapat dengan ini.”

Ada pendapat sebagian ulama yang mengatakan boleh menjamak shalat karena hajah dan karena sebab-sebab yang lain. Pendapat ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw. Shalat di Madinah delapan rakaat dan tujuh rakaat, yaitu zuhur dan asar kemudian maghrib dan isya. Hadis tersebut adalah sebagai berikut:

جمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء بالمدينة من غير خوف ولا مطر قيل لابن عباس : ما اراد بذلك ؟ قال: اراد ان لايحرج امته

Artinya : “Beliau menjamak antara zuhur dan asar, antara maghrib dan isya di Madinah tanpa ketakutan dan hujan. Orang bertanya kepada Ibnu Abbas: Apakah yang beliau maksudkan dengan itu? Ibnu Abbas menjawab: beliau bermaksud untuk tidak menyukarkan kepada umatnya.”

Jadi, dapat disimpulkan bahwa menjamak shalat bagi pengantin wanita karena ada hajah yakni pernikahan merupakan persoalan ikhtilaf atau perbedaan pendapat para ulama. Sehingga jika kita dihadapkan dengan persoalan ini lebih baik kita mengusahakan tetap melaksanakan shalat fardhu dengan tepat waktu, walaupun ada beberapa ulama yang membolehkan. Kalaupun memang tidak bisa melaksanakannya dengan tepat waktu karena ada beberapa kendala, bisa mengikuti pendapat ulama yang membolehkan, tetapi dengan catatan bahwa menjamak shalat bagi pengantin wanita dilakukan untuk diri sendiri karena dalam kesulitan bukan untuk mencari celah hukum (sering dilakukan karena sebab yang ringan) dan dilakukan terus menerus sehingga menjadi adat kebiasaan. Sesungguhnya orang-orang yang meninggalkan shalatnya adalah orang-orang yang lalai. II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *