Abu Al-Hasan Ali An-Nadwi, Ahli Problematika Umat Kontemporer

by
Abu Al-Hasan Ali An-Nadwi. Foto: IstimewaAbu Al-Hasan Ali An-Nadwi. Foto: Istimewa

Syaikh Abu Al-Hasan Ali An-Nadwi merupakan ulama besar yang tidak diragukan lagi kepakarannya dalam ilmu-ilmu Islam kontemporer. Ulama asal India yang lahir tahun 1332 H/1913 M (menurut wikipedia 1914 M) tersebut telah lama dikenal dengan karya-karyanya yang bermutu, namun bukunya yang paling terkenal di Indonesia adalah yang berjudul “Sirah Nabawiyah” dan “Kerugian Dunia dengan Keruntuhan Umat Islam.”

Wartapilihan.com, Jakarta –Dua buku tersebut sempat menggemparkan dunia pergerakan Islam karena tajam dalam menganalisis secara ilmiah namun tidak melupakan sisi-sisi haroki (gerakan), hingga sekarang masih sangat menarik perhatian pembaca di dunia khususnya di Indonesia, meski sudah ditulis puluhan tahun yang lalu. Selama hidupnya, beliau bersahabat dengan tokoh-tokoh besar Ikhwanul Muslimin dan para pejuang lainnya, seperti Sayyid Quthb, Muhammad Al-Ghazali hingga Sayyid Abu ‘Ala Al-Maududi. Sayyid Quthb sendiri sangat memuji tulisan-tulisan Syaikh An-Nadwi, karena dianggap berbeda dari yang lain dan gaya bahasa tulisannya amat menggugah keislaman generasinya.

Menurut biografinya dalam buku “Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW” Syaikh An-Nadwi masih keturunan Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, penghulu para sufi akhlaki di zamannya. Dikatakan nenek moyang keluarganya hijrah dari Madinah ke India untuk menyebarkan Islam serta memperbaiki aqidah umat dari bid’ah dan khurafat, sekitar abad 7 H. Sebutan An-Nadwi sendiri didapati setelah berdirinya Nadwatul Islam di mana beliau menjabat sebagai ketuanya sejak tahun 1961 M hingga wafatnya.

Guru-guru Syaikh An-Nadwi sangat beragam, mulai dari pujangga Muhammad Iqbal, Syaikh Abdul Ali Al-Husaini (saudaranya sendiri), Syaikh Abdurrahman Mubarakfuri, Syiakh Muhammad Ilyas (pendiri gerakan Jamaah Tabligh) hingga ahli hadits Syaikh Husaini Ahmad Madani. Bidang kesusastraan Muhammad Iqbal memang sangat mempengaruhi Syaikh An-Nadwi. Syaikh An-Nadwi sendiri dikenal dengan pengetahuannya yang berlimpah dan sangat tajam daya kritisnya, visinya yang modern dan integral menjadikannya mampu mengembangkan aktivitas dakwah serta pemikirannya ke berbagai bidang. Hal itu didukung oleh perjalanannya ke hampir semua negara di dunia.

Dekade 1950-1960-an menjadi dekadenya dalam berkeliling ke berbagai negara di dunia. Namun saat hendak mengunjungi Mesir untuk menjalin hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, ia ditolak rezim Mesir pimpinan diktator Gamal Abdul Naser. Rezim tiran Mesir itu ketakutan kunjungannya ke Mesir dengan para tokoh Ikhwanul Muslimin semakin menyadarkan dan menguatkan kekuatan umat Islam di Mesir akan kebobrokan rezim tirani Gamal Abdul Naser. Saking khawatirnya pemerintah Mesir sampai melarang Syaikh An-Nadwi dan Syaikh Al-Maududi untuk menjadi anggota dewan riset Islam Al-Azhar, padahal tim dewan riset Islam Al-Azhar sendiri sudah meminta kedua tokoh besar Islam asal India dan Pakistan tersebut agar bergabung. Sekalipun begitu, Syaikh An-Nadwi tetap menjalin hubungan baik dengan para ulama dan pejuang Mesir.

Syaikh An-Nadwi turut berperang dalam sekitar 100 muktamar dan forum internasional, yang membahas problematika umat dan masalah keislaman. Beliau aktif dalam pendirian dan keanggotaan beberapa organisasi serta pemikiran Islam internasional. Beliaulah pendiri Dewan Ilmu Islam di India dan menjabat sebagai ketuanya hingga akhir hayatnya, anggota Majelis Taksisi Rabithah Alam Islami, anggota Dewan Tinggi Masjid Internasional, anggota Dewan Fiqih Rabithah Alam Islami, anggota Dewan Kerajaan untuk riset peradaban Islam di Jordan, anggota Dewan Ilmu Pengetahuan dan Dewan Bahasa Arab di Damasqus, anggota luar biasa di Majma Masri, anggota Majelis Pertimbangan di Universitas Madinah, anggota Dewan Pelaksana Darul Mushannifin di India serta pelopor pendirian Pusat Pengkajian Islam Universitas Oxford sekaligus menjadi ketua majelis lektor sejak didirikannya, selain itu beliau juga menjadi kepala Nadwatul Ulama di India.

Beliau telah melengkapi khazanah kepusataakn Islam dengan lebih dari 50 judul buku dengan beragam tema, utamanya pemikiran Islam yang ditulis dalam empat bahasa yang dikuasainya  yakni bahasa Arab, Urdu, Perancis dan bahasa Inggris. Buku-bukunya yang terkenal antara lain “Sirah Nabawiyah”, “Madza Khasiral ‘Alam bi Inhithatil Muslimin” (Kerugian Dunia karena Kemunduran Umat Islam), “Rijalul Fikri Wadda’wah Fil Islam”, “Al-Arkan Al-Arba’ah”, “Asshira’ Bainal Fikrah Islamiyah wa Fikrah Gharbiyyah” dan “Rabbaniyah la Rahbaniyah”.

Beliau wafat di penghujung abad 20, tahun 1999, suatu kehilangan besar bagi umat Islam di seluruh dunia.

Ilham Martasya’bana, penggiat sejarah Islam

Sumber: Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW (Yogyakarta: Darul Manar, 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *