Suasana khidmat meliputi Gedung New Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Di hadapan ribuan alumni, tokoh nasional, santri, serta Presiden Republik Indonesia, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidato monumental dalam rangka Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor.
Pidato tersebut tidak sekadar menjadi refleksi perjalanan sejarah satu abad sebuah lembaga pendidikan Islam, melainkan juga penegasan arah moral, independensi pesantren, serta hubungan harmonis antara ulama dan pemerintah dalam mengawal masa depan bangsa.
Dari ‘Nggon Kotor’ Menjadi Pusat Inspirasi Umat
Mengawali amanatnya, K.H. Hasan Abdullah Sahal membawa ribuan hadirin melintasi lorong waktu, kembali ke masa awal berdirinya Gontor pada tahun 1926. Secara etimologis dan historis, nama Gontor berakar dari istilah nggon kotor—sebuah wilayah yang pada masa lampau sarat dengan ketertinggalan, praktik syirik, kekufuran, serta maraknya penyakit masyarakat seperti perjudian, pencurian, hingga maksiat.
Namun, melalui perjuangan gigih Tri Murti pendiri Gontor—K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi—wilayah yang tadinya dianggap kotor tersebut ditransformasikan menjadi ladang peradaban. Keikhlasan para pendiri dalam mewakafkan ide, sistem, nilai, lembaga, hingga rasa cinta tanah air berhasil meretas perubahan fundamental. Nggon kotor berganti rupa menjadi nggon inspirator, sebuah kawah candradimuka yang melahirkan pencerah dan pembina umat.
“Wakaf Gontor bukan hanya tanah dan bangunan, tetapi wakaf ide, sistem, nilai, dan jiwa keikhlasan untuk kemajuan umat dan bangsa.”
Transformasi nilai tersebut diiringi pula dengan perkembangan fisik yang luar biasa. Saat ikrar wakaf dicetuskan pada tahun 1958, kawasan kompleks pondok baru berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektar. Kini, genap satu abad usia lembaga tersebut, kawasan pengelolaan Gontor telah berkembang luas mencapai sekitar 1.200 hektar.
Perkembangan ini juga tecermin dari keberadaan Gedung BPPM tempat acara berlangsung. Berawal dari bangunan bersahaja bertiang pokok bambu pada dekade 1950-an, kini bangunan tersebut telah menjelma menjadi balai pertemuan megah berkapasitas ribuan orang yang menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah peringatan satu abad Gontor.
Pilihan Tegas Pada Pendidikan dan Independensi Lembaga
Di tengah dinamika sosial-politik bangsa yang terus berubah, K.H. Hasan Abdullah Sahal menegaskan kembali garis perjuangan yang dipilih oleh Gontor sejak awal berdirinya. Gontor secara sadar dan konsisten menetapkan pilihan hidupnya pada jalan pendidikan dan pembinaan karakter umat.
Pilihan ini menjadikan Gontor berdiri di atas semua golongan dan tidak terikat pada afiliasi politik praktis mana pun. Khittah tersebut melahirkan pameo khas bahwa Gontor tidak berada di mana-mana, namun kadernya ada di mana-mana. Berlandaskan pilar Iman, Islam, dan Ihsan, lembaga ini mendidik anak bangsa tanpa sekat kultural maupun organisasi.
- Inklusivitas Kaderisasi: Santri yang masuk dari latar belakang Nahdlatul Ulama (NU) dapat kembali dan memimpin NU, sebagaimana santri dari latar belakang Muhammadiyah dapat kembali dan memimpin Muhammadiyah.
- Pengabdian Multisektoral: Kiprah alumni telah merambah luas ke berbagai sektor pengabdian negara—eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun organisasi kemasyarakatan.
- Orientasi Utama: Menjaga ketertiban, menaati aturan hukum, serta membina moralitas masyarakat.
Cerdas Menyikapi Sejarah dan Otokritik Zaman
Menanggapi adagium sejarah, K.H. Hasan Abdullah Sahal menyitir pesan kenegaraan Presiden Soekarno mengenai Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Namun, ia memberikan penekanan mendalam bahwa generasi penerus tidak boleh berhenti hanya pada mengenang sejarah.
Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang cerdas menyikapi sejarah untuk membangun sejarah baru, bukan bangsa yang menyerah atau terbelenggu oleh masa lalu. Sejarah harus dijadikan pijakan kritis untuk melangkah maju menciptakan karya nyata bagi kemanusiaan.
Pidato tersebut juga diselingi otokritik sosial yang tajam terhadap fenomena kedangkalan moral di tengah masyarakat modern. K.H. Hasan menyentil maraknya budaya oportunisme—fenomena orang-orang yang sibuk mencari muka karena tidak memiliki harga diri, mencari gelar dan ijazah tanpa proses keilmuan yang benar, serta mengejar jabatan demi kepentingan diri sendiri.
Falsafah Kehidupan Gontor (STIR):
- Sabar — Teguh menghadapi ujian zaman.
- Tawakal — Berserah diri penuh kepasrahan kepada Allah SWT.
- Ikhlas — Meniatkan segala ibadah dan kerja hanya untuk ridho-Nya.
- Ridho — Menerima segala ketentuan dengan jiwa yang lapang.
Melalui fondasi nilai STIR ini, santri ditempa untuk menjadi pribadi yang bersahaja, berintegritas tinggi, dan tidak mudah tergiur oleh kenikmatan semu.
Harmoni Ulama dan Umaro: Saling Percaya untuk Kemajuan Bangsa
Momen puncak dalam resepsi tersebut adalah penegasan mengenai hubungan ideal antara pimpinan lembaga pendidikan Islam (ulama) dan pemegang kekuasaan negara (umaro). K.H. Hasan Abdullah Sahal menyambut hangat kehadiran Presiden Republik Indonesia di tengah-tengah keluarga besar Gontor.
Kehadiran pimpinan tertinggi negara pada momentum satu abad ini dinilai sangat tepat dan membawa keberkahan. K.H. Hasan menegaskan bahwa hubungan antara pesantren dan pemerintah harus dilandasi oleh asas husnuzan (prasangka baik) dan rasa saling percaya.
Prinsip tersebut menjadi fondasi utama dalam menjamin stabilitas dan kemajuan bangsa. Selama pemerintah berprasangka baik serta mendukung perjuangan pendidikan Islam, maka lembaga pendidikan Islam pun akan senantiasa berprasangka baik, mendukung program kerakyatan, dan berdiri berdampingan dengan pemerintah.
Sebagai simbol ikatan spiritual dan intelektual antara Gontor dan bangsa Indonesia, dalam kesempatan tersebut diserahkan cenderamata berupa Mushaf Al-Qur’an Gontor serta buku bertajuk Hadiah Gontor untuk Indonesia kepada Presiden RI.
Makna Peringatan Satu Abad
Mengakhiri amanatnya, K.H. Hasan Abdullah Sahal mengingatkan seluruh jajaran pengasuh, alumni, dan santri bahwa capaian usia 100 tahun bukanlah sebuah panggung perayaan atau pesta pora. Momentum ini adalah sebuah peringatan—sebuah peringatan untuk terus mengingat nikmat Allah SWT, memperbarui niat, serta meningkatkan kualitas ibadah dan pengabdian kepada masyarakat.
Menutup pidatonya dengan ungkapan filosofis bahwa setiap masa ada tokohnya dan setiap tokoh ada masanya, K.H. Hasan memanjatkan doa agar langkah perjuangan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam mencerdaskan kehidupan bangsa senantiasa mendapat ridho dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa di masa-masa yang akan datang.
















