Ghouta Timur Tak Kunjung Damai

by
foto:http://www.iphone.afp.com

Korban serangan udara rezim yang didukung Rusia terus bertambah. Sementara gencatan senjata diserukan, pertempuran terus berlanjut.

Wartapilihan.com, Ghouta Timur – Serangan udara berat dan bentrokan terus menerus mengguncang daerah kantong oposisi Suriah di Ghouta Timur. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan sebanyak 805 warga sipil – termasuk setidaknya 178 anak – telah terbunuh sejak pasukan rezim yang didukung Rusia melancarkan serangan di daerah kantong yang terkepung di sekitar Damaskus pada 18 Februari.

Rusia menderita kerugian besar pada hari Selasa (6/3) karena Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan adanya sebuah kecelakaan pesawat terbang Rusia mendarat di sebuah pangkalan udara di barat Suriah barat yang menewaskan 39 orang.

Pengeboman dan bentrokan di Ghouta Timur, wilayah oposisi utama terakhir di dekat Damaskus, tetap terjadi meski ada gencatan senjata selama sebulan yang diminta oleh Dewan Keamanan lebih dari sepekan yang lalu.

Sedikitnya 24 warga sipil tewas pada hari Selasa (6/3), menurut Observatorium, sebuah monitor yang berbasis di Inggris.

Serangan tanpa henti tersebut mendorong Prancis dan Inggris untuk meminta sebuah pertemuan darurat badan PBB di balik pintu tertutup pada hari Rabu (7/3) untuk membahas kegagalan pelaksanaan gencatan senjata.

Pasukan pemerintah telah maju dengan cepat melintasi lahan pertanian di Ghouta Timur dalam seminggu terakhir dan telah menguasai 40 persen wilayah kantong pada Selasa (6/3) pagi.

Di kota utama Douma, serangan udara mengakibatkan rumah menjadi tumpukan reruntuhan, seorang koresponden AFP melaporkan.

Pekerja pertahanan sipil yang kelelahan pada hari Selasa (6/3) mengambil keuntungan dari beberapa jam ketenangan untuk mengevakuaisi jenazah seorang penduduk yang terbunuh dalam pengeboman beberapa hari yang lalu dari sebuah bangunan yang roboh.

Ghouta Timur merupakan wilayah bagi sekitar 400.000 penduduk yang telah hidup di bawah pengepungan pemerintah sejak 2013. Mereka menghadapi kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah bahkan sebelum serangan terakhir dimulai.

Empat puluh enam truk bantuan memasuki daerah tersebut pada hari Senin (5/3) untuk pertama kalinya sejak serangan dimulai, namun harus mengurangi pengiriman mereka dan pergi karena pertempuran yang berkecamuk.

Hampir setengah dari makanan yang dibawa pada konvoi tidak dapat dikirim dan pihak berwenang Suriah menyita beberapa persediaan medis dan kesehatan dari truk-truk tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (6/3) Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa dia “meminta semua pihak untuk segera mengizinkan akses yang aman dan tidak terganggu untuk konvoi lebih lanjut yang memberikan pasokan kritis kepada ratusan ribu orang yang sangat membutuhkan”.

Dia mendesak semua pihak yang berperang untuk mengizinkan truk bantuan kembali melakukan pengiriman kedua yang direncanakan ke Douma pada hari Kamis (8/3).

Penggunaan Senjata Kimia

Warga sipil di daerah tersebut menggunakan jeda dalam serangan udara untuk menjelajah dari gudang bawah tanah guna mengumpulkan beberapa kebutuhan dari apa yang tersisa dari rumah mereka.

Beberapa mengumpulkan potongan-potongan furnitur yang hancur untuk digunakan sebagai bahan bakar atau dijual ke tetangga mereka.

Seorang wartawan AFP di Hammuriyeh mengatakan bahwa serangan udara terus menyerang kota tersebut pada hari Selasa (6/3).

“Orang-orang yang kami temui di sini telah melalui hal-hal yang tak terbayangkan. Mereka tampak kelelahan,” Pawel Krzysiek dari Komite Palang Merah Internasional mengatakan setelah konvoi bantuan mengakhiri misinya pada hari Senin (5/3).

Dewan Hak Asasi Manusia PBB memerintahkan penyidik untuk memeriksa kekerasan terakhir di daerah kantong tersebut. Dewan tersebut mengecam “penggunaan senjata berat dan pengeboman udara tanpa pandang bulu terhadap warga sipil, dan dugaan penggunaan senjata kimia di Ghouta Timur”.

Kawasan itu merupakan benteng oposisi terakhir di ambang pintu ibu kota Suriah dan rezim tersebut ingin merebutnya kembali untuk mengamankan Damaskus.

Pejuang oposisi di sana telah melepaskan gelombang roket dan mortir ke lingkungan Damaskus timur.

Oposisi Tak Mau Menyerah

Harian rezim Rusia pekan lalu mengumumkan “jeda kemanusiaan” selama lima jam di wilayah tersebut. Mereka mengatakan bahwa akan menjamin jalan yang aman bagi warga sipil yang ingin melarikan diri dari daerah kantong tersebut.

Tidak ada warga sipil Suriah yang diketahui menggunakan “koridor kemanusiaan”.

Pada hari Selasa (6/5), Rusia mengumumkan bahwa rute keluar telah diperluas untuk memungkinkan pemberontak, bukan hanya warga sipil, untuk meninggalkan daerah kantong tersebut.

Angkatan udara Rusia melakukan intervensi di Suriah pada tahun 2015 atas nama Presiden Bashar al-Assad, membantu pasukannya merebut kembali kota-kota utama di seluruh negeri.

Rezim Assad telah berulang kali dituduh melakukan penyerangan terhadap warga sipil dan penyelidik PBB pada hari Selasa (6/3) mengatakan sebuah serangan Rusia di sebuah pasar Suriah yang ramai tahun lalu mungkin merupakan “kejahatan perang”.

Serangan udara di sebuah pasar di Atareb yang dikuasai oposisi di bagian utara Suriah pada 13 November lalu menewaskan setidaknya 84 orang, termasuk lima anak-anak, dan melukai sekitar 150 lainnya, Komisi Penyelidik PBB mengenai hak asasi manusia di Suriah mengatakan dalam laporan terakhirnya.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Selasa (6/3) bahwa sebuah pesawat angkut Rusia jatuh saat mendarat di pangkalan udara Hmeimim, menewaskan 33 penumpang dan 6 awak kapal – semua personil militer.

“Alasan kecelakaan tersebut menurut informasi awal bisa jadi merupakan kesalahan teknis,” kata kementerian tersebut, menambahkan bahwa pesawat tersebut tidak mendapat serangan dari bawah.

Lebih dari 340.000 orang terbunuh dan jutaan orang mengungsi di Suriah sejak dimulainya perang saudara di tahun 2011 dengan represi antipemerintah yang brutal.

Selama bertahun-tahun, sejumlah putaran perundingan damai Suriah yang didukung PBB gagal membendung pertempuran tersebut.

Dalam upaya terakhir untuk mengakhiri perang tujuh tahun tersebut, menteri luar negeri sekutu rezim, Iran dan Rusia, dan pendukung oposisi Turki akan bertemu pekan depan di Astana. Demikian dilaporkan AFP.

Moedja Adzim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *