Rohingya dan Banjir Pengungsi

by
A Rohingya boy carries a child after after crossing the Bangladesh-Myanmar border in Teknaf, Bangladesh, September 1, 2017. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain Sumber:http://www.reuters.com/

UNHCR memperkirakan, sampaj Sabtu(2/9), pengungsi Myanmar yang tiba di Bangladesh sudah mencapai 60.000 jiwa. Muslim Rohingya dipaksa pergi karena tempat tinggal mereka telah dibakar oleh militer Myanmar.

Wartapilihan.com, Rakhine –Dalam 24 jam terakhir, seperti dilansir Associated Press, puluhan ribu orang telah menyeberang dengan kapal tongkang dan berjalan kaki ke Bangladesh. Mereka melarikan diri dari kekerasan di Myanmar Barat.

Pejabat keamanan Myanmar dan minoritas etnis Rohingya saling menuduh membakar desa-desa dan melakukan kekejaman di negara bagian Rakhine, Myanmar. Informasi versi militer mengatakan hampir 400 orang, kebanyakan dari mereka adalah gerilyawan, tewas dalam bentrokan bersenjata.

Kekerasan tersebut telah memicu banjir pengungsi yang sebagian besar berjalan kaki ke Bangladesh, meskipun ada yang melarikan diri dengan kapal tongkang.

“Sekitar 60.000 orang telah tiba di Bangladesh sejak kekerasan yang meletus pada 25 Agustus,” kata juru bicara UNHCR, Vivian Tan. Jumlah tersebut 20.000 lebih banyak dari jumlah yang diperkirakan pejabat lokal pada hari Jumat (1/9).

Pengungsi yang tiba di desa nelayan Bangladesh, Shah Porir Dwip, menjelaskan bahwa bom diledakkan dan warga Rohingya dibakar hidup-hidup.

“Kami melarikan diri ke Bangladesh untuk menyelamatkan nyawa kami,” kata seorang pria yang hanya memberikan nama depannya, Karim. “Militer Rakhine  dan ekstremis membakar kami, membunuh kami, membuat desa kami terbakar.”

Karim menceritakan bahwa dia harus membayar sekitar 150 dollar untuk setiap anggota keluarganya yang diselundupkan ke sebuah kapal tongkang ke Bangladesh setelah tentara membunuh 110 orang Rohingya di Desa Kunnapara, dekat kota pesisir Maungdaw.

“Militer menghancurkan semuanya. Setelah membunuh beberapa orang Rohingya, militer membakar rumah dan toko mereka,” katanya. “Kami punya bayi yang baru berumur 8 hari dan wanita tua yang berusia 105 tahun.”
Citra satelit yang dianalisis oleh Human Rights Watch menunjukkan bahwa ratusan bangunan telah hancur di setidaknya 17 lokasi di negara bagian Rakhine sejak 25 Agustus, termasuk sekitar 700 bangunan yang tampaknya telah terbakar habis di Desa Chein Khar Li.

Sementara itu, seperti dilaporkan Reuters, lebih dari 2.600 rumah telah dibakar di wilayah mayoritas Rohingya di barat laut Myanmar pada pekan lalu.

Ali Hossain, seorang wakil komisaris di Cox’s Bazar, mengatakan bahwa Bangladesh berjuang untuk mengatasi datangnya pengungsi karena “arus pengungsi Rohingya terus berlanjut dengan menggunakan kapal dan jalur darat.”

Palang Merah telah mengirim tim ke kamp-kamp pengungsi, berkoordinasi dengan Masyarakat Bulan Sabit Merah setempat untuk “menilai kebutuhan para pengungsi. Masuknya tersebar di tempat yang berbeda. Tugas yang menantang bagi kami,” kata juru bicara, Misada Saif.

“Kami berharap bisa mulai memasok air dan makanan segera,” kata Saif.

Kekerasan meletus pada 25 Agustus, ketika gerilyawan menyerang pos polisi dan paramiliter Myanmar dalam apa yang mereka katakan sebagai upaya untuk melindungi minoritas Rohingya. Sebagai tanggapan, militer melepaskan apa yang disebutnya “operasi pembersihan” untuk membasmi pemberontak.

Advokat untuk Rohingya, minoritas Muslim tertindas di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha, mengatakan bahwa pasukan keamanan dan warga sipil telah menyerang dan membakar desa-desa, menembaki warga sipil, dan menyebabkan orang lain melarikan diri.

Pemerintah menyalahkan gerilyawan karena membakar rumah mereka sendiri dan membunuh umat Budha di Rakhine. Ketegangan yang berlangsung lama antara Muslim Rohingya dan umat Buddha meletus dalam kerusuhan berdarah pada tahun 2012, memaksa lebih dari 100.000 Rohingya ke kamp-kamp pengungsian.

Polisi Bangladesh mengatakan pada hari Kamis (31/8) bahwa tiga kapal tongkang yang membawa pengungsi telah terbalik di Sungai Naf, menewaskan setidaknya 26 orang, termasuk wanita dan anak-anak.
Pada hari Sabtu (2/9), orang-orang di desa nelayan Shah Porir Dwip berkumpul untuk mengubur mayat seorang wanita yang ditemukn mengambang di tepi sungai.

Moedja Adzim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *