Ramadhan: Momentum “Pit Stop” Jiwa dan Ikhtiar Menanam Jariyah di Penjuru Dunia

by

Di tengah hiruk-pikuk kesibukan duniawi yang tak ada habisnya, Ramadhan hadir bukan sekadar sebagai bulan menahan lapar dan dahaga. Bagi Ustaz Fatih Karim, pendiri Cinta Quran, Ramadan adalah momen “pit stop”—sebuah pemberhentian sejenak untuk merenungkan arah hidup dan memperbaiki kompas jiwa yang mungkin telah tersesat.

Wartapilihan.com, Jakarta– Dalam sebuah dialog hangat bersama mentornya, inspirator sukses mulia Jamil Azzaini, Ustaz Fatih membagikan refleksi mendalam mengenai esensi Al-Qur’an, luka jiwa, hingga ambisinya membangun rumah Allah di empat benua.

Ustaz Fatih menekankan bahwa kemuliaan Ramadhan bukan terletak pada puasanya, melainkan pada peristiwa turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an). Tanpa petunjuk (Huda), manusia sangat rentan tersesat, bahkan di dalam rumahnya sendiri.

“Bagaimana mungkin seseorang tersesat di rumah sendiri? Faktanya ada. Ayah yang menodai anaknya, atau kiai yang seharusnya membimbing justru merusak santrinya. Itu adalah bukti nyata manusia yang kehilangan panduan hidup,” ujar Ustaz Fatih dengan nada prihatin.

Keprihatinan ini didasari pada data dari Dewan Masjid Indonesia yang menyebutkan bahwa sekitar 72% umat Muslim di Indonesia belum bisa membaca Al-Qur’an. Inilah yang menggerakkan Ustaz Fatih melalui lembaga Cinta Quran untuk masuk ke pelosok negeri, memberantas buta aksara Al-Qur’an agar masyarakat memiliki pegangan hidup yang kokoh.

Salah satu poin emosional dalam perbincangan tersebut adalah pentingnya kesehatan mental dan pemulihan jiwa. Ustaz Fatih secara jujur mengungkap latar belakang pribadinya sebagai anak broken home yang sempat merasakan perihnya luka jiwa.

“Saya tidak bertemu ibu selama 10 tahun karena beliau bekerja sebagai TKI di Malaysia. Beruntung, saya bertemu dengan Al-Qur’an dan guru-guru hebat. Jika tidak, mungkin tidak ada Fatih Karim hari ini,” ungkapnya.

Hal inilah yang membuatnya sangat mendukung pembangunan Kampung Hening (Eco Planner) yang diinisiasi oleh Jamil Azaini. Fasilitas ini dirancang menjadi pusat pemulihan bagi mereka yang mengalami mental illness atau trauma masa lalu. Menurutnya, saat ini banyak orang yang tampak bahagia di media sosial, namun menyimpan kehampaan dan luka di dalam batinnya.

Meski disibukkan dengan berbagai agenda nasional, fokus Ustaz Fatih kini meluas ke kancah internasional. Ia aktif menggalang pembangunan masjid di berbagai negara, mulai dari Masjid Yokohama di Jepang, pusat Islam di Melbourne (Australia), hingga rencana pembangunan masjid pertama di Swiss dan Kanada.

“Saya ingin meninggalkan jejak. Membangun masjid adalah cara kita ‘membawa mati’ harta kita. Ini adalah hadiah terbaik yang bisa saya berikan untuk kedua orang tua saya,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga berkomitmen untuk mendukung penuh pembangunan masjid di kawasan Eco Pesantren milik Jamil Azaini sebagai bentuk bakti murid kepada gurunya.

Menjelang akhir Ramadan, Ustaz Fatih mengajak jamaah untuk tidak menunda amal saleh. Mengingat banyak ulama dan sahabat yang telah berpulang, ia mengingatkan bahwa kematian bisa datang kapan saja.

“Harta dari Allah, milik Allah, maka kembalikanlah kepada Allah melalui wakaf. Jangan lihat angkanya, tapi lihatlah keikhlasannya. Mari kita pulang ke haribaan-Nya dengan membawa bekal terbaik dan mengukir senyum di wajah Baginda Nabi SAW,” pungkasnya.