Puasa dan Penelitian MarshMallow

by

Puasa adalah ibadah multi dimensi. Ada dimensi ketaqwaan (la’allakum tattaqun), ada dimensi sosial (saling merasakan penderitaan kemudian saling berbagi), ada dimensi sejarah (kama kutiba ‘ala alladzina min qablikum), ada dimensi kesehatan (shummu tashihu) dan ada dimensi mental spiritual (al-imsak). Tentu jika ingin dikembangkan lagi masih bisa. Kali ini, kita akan bahas satu dimensi saja yaitu puasa dalam dimensi mental spiritual.

Wartapilihan.com, Jakarta– Puasa yang dalam bahasa Arab disebut dengan ash-shaum bermakna menahan diri atau al-imsak. Dalam surat Maryam 26 Allah berfirman, “…Sesungguhnya aku telah menadzar kepada Allah Yang Maha Rahman untuk berpuasa…” yang dimaksud berpuasa pada ayat ini adalah diam, menahan diri tidak berbicara. Shaama an-nahaara (siang hari yang berpuasa) artinya matahari berada pas di tengah kepala kita karena menahan bayangan sebelum bergeser. Sementara secara terminologi puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Imam al-Ghazali membagi tingkatan puasa menjadi tiga. Pertama puasanya orang umum (aam) yaitu menahan diri dari tidak makan, minum dan berhubungan badan. Kedua puasa orang yang khusus, yaitu orang yang berpuasa dengan cara aam dan juga menahan diri dari hawa nafsu seperti dari melihat dan mendengar hal-hal yang diharamkan, menjaga lisan dan hati. Ketiga puasanya orang khusus di antara yang khusus, yaitu berpuasa dengan menahan diri dari semua hal yang melalaikan diri terhadap Tuhan. Level ketiga ini adalah puasanya para nabi.

Ternyata dari semua tingkatan itu, intinya adalah mengendalikan diri. Dan di abad modern ini, berbagai penelitian menyebutkan bahwa kunci sukses seseorang tergantung dari kemampuannya menahan atau mengendalikan diri. Ada sebuah penelitian terkenal di bidang psikologi yang dilakukan oleh Prof. Walter Mischel dari Universitas Stanford sekitar tahun 1960an untuk meneliti efek menunda kepuasan (delayed gratification). Ia menguji anak-anak usia TK yang berusia sekitar 4-5 tahun. Sejumlah anak-anak usia tersebut dimasukkan ke dalam kelas dan masing-masing diberikan 1 permen marshmallow. Dikatakan kepada anak-anak itu, mereka boleh makan marshmallow yang sudah ada di tangan mereka. Tapi jika mereka mau menunggu 15-20 menit lagi untuk tidak memakan permen tersebut, maka Prof Mischel akan memberikan marshmallow satu lagi.

Kemudian Prof Mischel keluar dan ia mengamati dari luar jendela dan setelah 20 menit masuk kembali serta membagikan marshmallow bagi mereka yang berhasil menunggu. Hasilnya ada tiga kelompok. Kelompok pertama adalah anak-anak yang langsung memakan permennya. Kelompok kedua adalah anak-anak yang mampu menahan tidak memakan permen sampai Prof Mischel datang dan kelompok ketiga adalah anak-anak yang semula menahan diri tidak makan tapi akhirnya makan juga dengan berbagai waktu yang berbeda. Demikian penelitian tersebut selesai. Namun yang fenomenal dari penelitian ini adalah Prof. Mischel melanjutkan penelitiannya setelah 20 tahun berselang. Tahun 1980an beliau mengirimkan kuesioner kepada orang tua, guru, teman dekat, pembimbing akademis dari anak-anak yang dulu ditelitinya dan menanyakan beberapa hal tentang prestasi dan pergaulannya.

Ternyata yang mengejutkan adalah, ada perbedaan signifikan dari anak yang dahulu mampu menahan diri tidak memakan permen dengan yang langsung makan atau menunda tapi akhirnya makan juga. Perbedaannya di antaranya adalah nilai SAT (semacam Indeks Prestasi) lebih tinggi bahkan rata-ratanya 201 poin di atas mereka yang tidak mampu menunggu. Juga secara fisik mereka lebih kuat, jarang terkena stres, tidak rentan terhadap narkoba dan tidak terkena obesitas. Kemudian penelitian dilanjutkan tahun 2000an (artinya 40 tahun kemudian) dan kelihatan nyata bedanya, mereka yang berhasil menahan diri waktu kecil itu akhirnya menjadi orang-orang yang sukses dalam kehidupan.

Kesimpulannya, ada dua sifat yang dimiliki oleh anak-anak yang mampu menahan diri ketika kecil dan kemudian sukses dalam kehidupan, yaitu will power (kemampuan mengendalikan diri) dan delayed gratification (menunda kesenangan). Namun pada tahun 2018 Watt melakukan penelitian yang sama dan membantah penelitan Mischel. Hasil penelitiannya menunjukkan yang berpengaruh terhadap anak-anak tersebut adalah keluarga dan lingkungan.

Hasil penelitian Mischel maupun Watt sebenarnya tidak bertentangan tapi saling melengkapi. Dan hebatnya, kesemuanya itu ada dalam dimensi ibadah yang sedang dilaksanakan umat Islam saat ini yaitu puasa Ramadhan. Jika anak kecil mampu menahan diri selama 20 menit saja berhasil sukses ketika dewasa, apalagi kita umat Islam yang menahan diri selama 13 jam selama sebulan. Kita mampu menahan lapar dan dahaga serta berhubungan badan dengan istri. Juga kita menahan diri dari pandangan, pendengaran, kecenderungan hati, lisan dan sebagainya yang tidak diperkenankan agama. Selama Ramadhan suasana kita umat Islam di Indonesia -baik keluarga maupun masyarakat juga sangat kondusif. Namun sepertinya umat Islam sampai sekarang kondisi keduniawiannya masih tertinggal. Ada apa kiranya?

Rahasianya adalah, sebagaimana anak-anak yang berhasil menahan diri tidak makan permen, kemampuan mengendalikan diri itu datang bukan dari luar tapi dari dalam diri sendiri. Inilah puasa yang menurut Imam Ghazali puasanya orang khusus, tingkat kedua. Jika ibadah kita tidak sekedar ritual, tapi kita mampu memahami makna yang terkandung di dalamnya, yaitu menahan diri dari segala hal yang tidak baik, akan membuat kita sukses sebagai manusia paripurna. Di sini kriteria sukses antara kita orang Islam dan mereka di dunia Barat “sedikit” berbeda. Kita punya definisi sendiri tentang sukses, bukan sekedar kecukupan materi, tapi mampu berbagi dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama (khairu an-nas anfa’ahum li an-nas).

Dan jika bangsa Indonesia ini mampu meraih makna puasa yang sebenarnya, tidak akan ada lagi koruptor atau penipu rakyat. Sebab, mereka mampu menahan diri tidak memakan harta haram. Mereka yakin rizki itu datangnya dari Allah. Para koruptor itu sebenarnya tidak sabar. Sedikit saja mereka mampu menahan diri, sebenarnya rizki dari Allah datang juga secara halal. Kalau seseorang mempunyai harta -misal sebesar Rp 1 milyar dengan cara korupsi, sebenarnya kalau tidak korupsi ya hartanya Rp 1 milyar juga, karena rizki seseorang sudah tercatat di lauhul mahfudz. Hanya saja apakah kita ingin menggapainya dengan cara yang halal atau haram itu terserah kita.

Hal serupa pernah kejadian di jaman Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib pergi ke masjid mengendarai keledai. Di depan masjid ia melihat seorang anak yang sangat memelas. Kemudian ia menitipkan keledainya dan di dalam hati ia membatin, nanti jika telah selesai shalat maka ia akan memberikan uang satu dirham kepada anak ini. Begitu selesai shalat maka terkejutlah Ali karena anak tersebut sudah tidak ada, keledainya masih ada tapi cangkang (alat yang biasa dipasang di mulut untuk dijadikan kendali) keledainya hilang. Maka Ali menyuruh salah seorang sahabatnya untuk pergi ke pasar dan apabila ketemu cangkang keledainya maka ia menyuruh membelinya dengan harga 1 dirham. Tak lupa Ali membekali sahabatnya dengan uang yang seyogyanya akan diberikan kepada anak tadi.

Ternyata betul, di pasar sahabat tersebut menemukan anak yang menjual barang curian berupa cangkang keledai. Oleh sahabat tersebut barang tersebut ditawar 1 dirham dan diberikan. Kemudian ia kembali lagi kepada Ali. Maka Ali berkata, ”Anak tersebut telah memilih satu dirham yang haram dari pada satu dirham yang halal. Padahal apabila ia sedikit bersabar maka ia akan mendapatkan satu dirham yang halal.”

Semoga puasa kita ini dapat menjadikan kita mempunyai will power dan kemampuan menunda kesenangan untuk mendapatkan kesenangan yang lebih besar. Sebagaimana janji Rasulullah saw, bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan. Pertama ketika berbuka, kedua ketika bertemu kelak dengan Tuhannya (lis sho’imi farhatani. Farhatun inda iftharihi, farhatun inda liqa’i rabbihi).

 

Dr. Budi Handrianto

Dosen Pasca Sarjana UIKA Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *