PKI

by
https://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com

Tiap bulan September, media-media di Indonesia selalu ramai dengan pembahasan Partai Komunis Indonesia. Selain diramaikan oleh media, pegiat-pegiat politik pro komunis atau anti komunis juga ikut meramaikannya. Bila di tahun 2015, ada seminar besar tentang PKI yang dibiayai pemerintah di Hotel Aryaduta Jakarta, maka tahun 2017 ini ramai seminar tentang PKI di YLBHI.

Wartapilihan.com, Jakarta –Seminar tahun 2015, yang diketuai oleh Agus Widjojo Gubernur Lemhannas, cenderung pro PKI. Seminar itu juga diberi angin oleh Luhut B Panjaitan. Massa yang hadir kebanyakan pro komunis. Sehingga tidak heran, ketika penyair ternama Taufiq Ismail membacakan puisinya tentang PKI, banyak peserta seminar yang memprotesnya. Taufiq yang mengkritisi PKI terpaksa menghentikan pembacanya puisinya, karena disoraki massa pro PKI dan beberapa orang maju ke depan untuk mengganggu pembacaan puisinya.
Tahun 2015 itu, massa pro PKI menuntut pemerintah Indonesia minta maaf kepada PKI dan mereka juga bersiap untuk menggali kuburan-kuburan korban PKI 1965.

Tapi Presiden Jokowi bimbang saat itu. Sebab, Menhankam Ryamizard Ryacudu menentang keras acara di hotel Aryaduta itu. Ryamizard dengan tegas mengatakan bahwa pemerintah tidak akan minta maaf kepada PKI. “Karena PKI yang memulai pembunuhan itu (perang),”tegasnya.

Bahkan Ryamizard kemudian bersama Gerakan Bela Negara, Front Pembela Islam dan beberapa ormas Islam akhirnya menandingi seminar di Aryaduta itu dengan mengadakan seminar di Balai Kartini. Di seminar itu, Ryamizard sendiri yang membuka acaranya. Selain menampilkan para pembicara yang anti PKI, di seminar itu, juga ditampilkan foto-foto keganasan PKI tahun 1948 dan peluncuran buku Ayat-Ayat Yang Disembelih.
Kini media diramaikan dengan seminar PKI yang ‘gagal’ di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta 16-17 September lalu. Yang menjadi korban dan tersangka kini justru massa dari ormas-ormas pemuda/Islam yang berniyat menggagalkan seminar itu. Polisi menuduh para tersangka berdemo melewati jam diperbolehkannya demonstrasi (kesepakatan).

Selain itu, media juga diramaikan dengan acara ILC 19 September 2017 lalu yang mengambil topik : PKI, hantu atau nyata. Terutama kesaksian anaknya tokoh PKI Aidit, Ilham Aidit. Ilham dalam acara itu menyatakan bahwa Aidit tidak merokok, tapi kenapa dalam film G30SPKI digambarkan merokok. Ilham dalam acara itu juga mencoba menampik peran ayahnya dalam peristiwa G30SPKI.

Kontan, pengakuan Ilham Aidit itu ramai di media sosial. Sebab, seolah-olah film G30SPKI itu tanpa riset dan studi yang serius.

Akhirnya, pengakuan dari Ilham itu terbukti bohong. Majalah Intisari (lihat http://intisari.grid.id/Unique/Fokus/Aidit-Ketika-Diwawancarai-Intisari-Pada-Maret-1964-Puncak-Perjuangan-Politik-Saya-Adalah-Proklamasi-Kemerdekaan-Entah-Nanti?page=7), kemudian menampilkan file wawancara dengan DN Aidit pada Maret 1946. Di situ wartawan Intisari yang mewawancarai Aidit di kantornya menulis : “…Politikus yang tak berolahraga menurut pendapatnya abnormal. Selama wawancara 2 jam itu, Aidit banyak minum, rokok, dan secangkir kopi pahit. Ia pun gemar musik. Musik yang indah mampu melenyapkan keletihan tubuh. Tidur cukup 4 – 5 jam sehari. Asal betul-betul pulas.”
Begitu pula keterangan Ilham itu juga dibantah oleh media Tempo. Media tempo.co dalam publikasinya 2 Oktober 2015 menyatakan bahwa DN Aidit sebelum dieksekusi mati, minta rokok pada eksekutornya. (lihat https://m.tempo.co/read/news/2015/10/02/078706002/eksklusif-g30s-sebelum-didor-aidit-minta-rokok-ke-eksekutor).

Kebohongan Ilham juga diduga kuat nampak pada buku yang ditulis Tim Tempo (edisi terbaru, 2017) : Sarwo Edhie dan Misteri 1965. Dalam buku itu Ilham menyatakan bahwa Letjend Sarwo Edhie dalam perbincangan pribadi dengannya, menyesal atas apa yang dilakukannya pada tahun 1965.

Dalam halaman 27, Tim Tempo menulis : “Mendengar jawaban Ilham, Sarwo diam lagi. Tatapan matanya beralih ke tempat lain. Lalu Sarwo bersuara sedikit bergetar,”Ya ketika itu adalah tugas negara yang diberikan kepada saya dan saat itu saya yakin apa yang saya lakukan adalah benar. Tapi berbelas tahun kemudian, saya pikir apa yang dilakukan negara ketika itu adalah keliru,” Ilham menirukan perkataan Sarwo. “Kamu bisa memahaminya kan?” Ilham diam sejenak,”Ya, Pak Sarwo. Saya bisa memahaminya.”

Pengakuan Ilham ini pun tidak ada konfirmasi dari orang lain. Dalam buku-buku yang beredar tentang Sarwo Edhie, sepengetahuan penulis, tidak pernah Sarwo Edhie menyatakan menyesal atas apa yang dilakukannya pada tahun 1965.

Seperti diketahui Sarwo Edhie adalah Komando Resimen Para Komando Angkatan Darat tahun 1965, yang memimpin dan menggerakkan tentara dan sipil untuk melakukan aksi ‘balas dendam’ terhadap aksi PKI 1965 dan 1948. Dalam sebuah rapat umum di Boyolali, Jawa Tengah, Sarwo Edhie di depan ribuan orang berteriak lantang,”Siapa mau dipotong kepalanya, saya bayar lima ribu.” Sunyi tidak ada jawaban. Sarwo lalu menambahkan,”Siapa yang mau dipotong kepalanya, saya bayar seratus ribu.” Masih sepi. “Nah dibayar seratus ribu saja tidak ada yang mau dipotong kepalanya. Agar kepala saudara-saudara tidak dipotong dengan gratis , maka PKI harus dilawan.” (Sarwo Edhie dan Misteri 1965, halaman x).

Film G30S PKI

Setelah Ryamizard menjadi bintang pada September 2015, kini 2017 Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bintangnya. Gara-garanya Gatot memberikan perintah resmi kepada seluruh tentara agar melakukan nonton bersama film G30SPKI karya Arifin C Noer. Film ini pada zaman Presiden Soeharto diwajibkan untuk diputar ulang tiap 30 September di TVRI. Tapi pada tahun 1998, ketika Soeharto lengser, film ini tidak diputar ulang lagi di TVRI.

Kini dengan perintah Panglima TNI, masyarakat ramai kembali menonton ulang film garapan tahun 1984 itu. Bukan hanya Kopassus atau Kodim yang melaksanakan nobar, lapangan masjid-masjid juga ikut meramaikannya. Rabu malam lalu (20/) di Lapangan Gatot Subroto, Cijantung film itu telah diputar dan ditonton bersama masyarakat. Sedianya film itu diperuntukkan untuk ditonton bareng anggota Kopassus dan keluarganya. Ratusan orang dari berbagai kalangan, akhirnya menikmati tiga layar yang dipasang di lapangan itu.

Sebenarnya film itu kini mudah didapatkan masyarakat. Di Youtube banyak beredar film itu. Film yang berdurasi lebih dari 3 jam itu, memang menarik untuk ditonton kembali di tengah perdebatan media tentang PKI.

Di toko-toko buku, kini banyak beredar buku tentang PKI dan peristiwa G 30 September 1965. Puluhan buku kini meragukan PKI sebagai aktor dibalik pembunuhan para jenderal itu.

Kalangan intelektual dan penulis pro komunis memang ingin menghilangkan jejak PKI dalam peristiwa keji tahun 1965 dan 1948. Tahun 1948, mereka menuduh Mohammad Hatta dibalik aksi 1948. Tahun 1965, mereka menuduh Soeharto sebagai dalangnya.
Tuduhan gerakan keji PKI 1948 adalah provokasi Hatta mudah dibantah, karena PKI dibawah Musso saat itu jelas-jelas mendeklarasikan negara komunis di Madiun. Mereka juga melakukan aksi-aksi membunuh ‘ribuan’ kiyai, santri dan orang-orang sipil yang menentang PKI.

Tuduhan kepada Soeharto dalang dibalik aksi G30SPKI tidak mudah dibantah. Selain banyaknya buku yang mempertanyakan keberadaan Soeharto di peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu, buku-buku yang membantahnya jumlahnya sedikit.

Film G30SPKI itu barangkali diperintahkan nobar oleh Panglima TNI untuk menandingi buku-buku pro komunis yang kini banyak beredar di pasaran.

Dan memang aneh kalau Pak Harto terlibat dalam aksi komunis 1965 itu. Nama Soeharto tidak pernah tertulis dalam sejarah sebagai anggota atau simpatisan PKI sejak 1948 atau sebelumnya. Tidak mungkin dalam peristiwa besar pembunuhan para jenderal 1965, tiba-tiba Soeharto menjadi dalangnya.

Sedangkan nama Aidit sudah beredar, sejak Musso melakukan aksi revolusi komunis di Madiun 1948. Ketika Musso ditangkap dan ditembak mati, Aidit dan kawan-kawannya menyembunyikan diri dan kemudian lari ke Rusia. (lihat http://www.wartapilihan.com/ketika-para-kiyai-disembelih-2/).

Tahun 50-an Aidit dkk kembali ke tanah air dan membangun kembali PKI. Dalam membangun PKI ini Aidit menyatakan,”Kalau kita mau menang dalam revolusi, kalau kita mau mengubah wajah masyarakat yang setengah jajahan menjadi Indonesia yang merdeka penuh, kalau kita mau ambil bagian dalam mengubah wajah dunia, maka kita harus mempunyai partai model Partai Komunis Uni Soviet dan model Partai Komunis Cina.”
Hanya dalam waktu tujuh tahun (1955) akhirnya Aidit, Ketua CC PKI akhirnya mendapat simpati dalam pemilu lebih dari enam juta orang. Maka jangan heran kemudian tahun 1965, PKI melakukan revolusi. Dan revolusi dilakukan Aidit dkk, di bulan September, sebagaimanarevolusi komunis Madiun (18 September 1948).

RRI Jakarta tanggal 1 Oktober 1965 setelah Warta Berita jam 07.00 pagi, menyiarkan pidato Letkol Untung (Ketua Dewan Revolusi G30SPKI): “Pada hari Kamis tanggal 30 September 1965 di Ibukota Republik Indonesia, Jakarta, telah terjadi gerakan militer dalam Angkatan Darat dengan dibantu oleh pasukan-paukan dari angkatan bersenjata lainnya. Gerakan 30 September yang dikepalai oleh Letnan Kolonel Untung Komandan Batalyon Cakrabirawa, pasukan pengawal pribadi Presiden Soekarno ini ditujukan kepada jenderal-jenderal anggota apa yang menamakan dirinya Dewan Jenderal. Sejumlah jenderal telah ditangkap dan alat komunikasi yang penting-penting serta objek-objek vital lainnya sudah berada pada kekuasaan Gerakan 30 September, sedangkan Presiden Soekarno selamat dalam lindungan Gerakan 30 September. Juga sejumlah tokoh-tokoh masyarakat lainnya yang menjadi sasaran tindakan Dewan Jenderal berada dalam lindungan Gerakan 30 September. Dewan Jenderal adalah gerakan subversif yang disponsori oleh CIA dan waktu belakangan ini sangat aktif, terutama dimulai ketika Presiden Soekarno menderita sakit yang serius pada minggu pertama bulan Agustus yang lalu. Harapan mereka bahwa Presiden Soekarno akan meninggal dunia sebagai akibat dari penyakitnya tidak terkabul…” ||

Nuim Hidayat Dachli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *