Perang Total

by
foto:istimewa

Oleh: M Rizal Fadillah

Setelah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menginstruksikan kesiapan prajurit TNI untuk perang kota, kini mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko menyerukan perang total. Seruan kepada “pasukan” Jokowi Ma’ruf ini dinilai berlebihan dan membahayakan karena membawa proses demokrasi kepada provokasi “perang”.

Wartapilihan.com, Jakarta –Dalam Wikipedia dijelaskan yang dimaksud dengan perang total adalah “konflik dimana kedua pihak memobilisasi seluruh sumber dayanya baik manusia, industri, agrikultur, militer, alam, atau teknologi untuk menghancurkan perlawanan musuh”.
Praktek perang total telah beberapa kali digunakan. Salah satu praktek awal perang total terjadi pada periode negara perang, ketika negara Qin menjadikan reformasi sebagai mesin perang. Contoh lain adalah perang total 9 tahun di Irlandia. Begitu juga penghancuran Baghdad oleh Genghis Khan yang dikenal bengis.

Dengan pemaknaan seperti ini maka program yang dicanangkan Moeldoko adalah penghancuran. Berbahaya sekali jika konsep ini diterapkan. Kubu Prabowo ditempatkan sebagai musuh yang dengan mobilisasi total harus dihancurkan. Moeldoko harusnya lebih bijak sebagai mantan Jenderal dalam memahami kompetisi. Ini adalah proses demokrasi konstitusional biasa. Kepemimpinan nasional silih berganti. Jangan berasumsi jika Presiden bukan Jokowi Indonesia hancur. Tidak Jenderal. Jangan berprinsip “kill or to be killed”. Apalagi sebagaimana diketahui di kubu Prabowo juga bertebaran mantan perwira tinggi TNI baik senior maupun juniornya pak Moeldoko. Sebaiknya tidak perlu panik karena tentara tak takut kalah. Ini kompetisi sesama anak bangsa yang cinta NKRI.

Pileg dan Pilpres yang dilakukan serentak adalah “percobaan politik” berdemokrasi. Tidak perlu didramatisasi berlebihan. Kompetisi untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung bukan pertama kali dilaksanakan. Kita bangsa Indonesia memiliki pengalaman akan hal ini dan tidak pernah ada masalah. Jika Moeldoko membawa kompetisi ini ke arena perang maka itu sama saja membuat rawan situasi. Polarisasi dan ketegangan dibuat oleh kubu petahana melalui skim perang Moeldoko. Jika kalah maukah Moeldoko disebut sebagai “penjahat perang” ?

Jokowi dulu pernah menyinggung adanya figur “genderuwo” yang gemar menciptakan ketakutan pada masyarakat dan Negara. Nah sekarang “genderuwo” itu ternyata tak jauh dari lingkungan sendiri. Ia berada di dalam dan bersikap “sok pahlawan”. Ke depan sebaiknya jangan suka bermain-main dengan senjata, karena bisa saja berakibat nantinya senjata itu “makan tuan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *