Moral Kerja di Akhir Pekan

by
Doc.wp

Menurut Keith Davis (1989: 76), moral sebagai sikap perorangan dan kelompok terhadap lingkungan kerjanya dan sikap untuk bekerja sebaik-baiknya dengan mengerahkan kemampuan yang dimiliki secara sukarela.

Wartapilihan.com, Jakarta –Bekerja adalah salasatu cara kita memenuhi kebutuhan biaya hidup yang wajib dijalani agar tetap eksis dalam kehidupan ini. Banyak orang yang bekerja dengan berbagai macam dan jenis pekerjaan yang ia lakoni agar menghasilkan uang untuk biaya hidup.

Sebagai manusia yang mempunyai karakter berkeluh kesah, selalu mendambakan kehidupan yang gemilang dan disaat menemukan kesulitan dalam hidup maka kehadiran psikologi menjadi tidak stabil.

Begitupun ketika menemukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan harapan, keluh kesah datang dengan sendirinya. Kalau sudah begini, maka kualitas kerja menjadi berkurang dan tingkat produktifitas pun akan menurun.

Pada saat yang sama, manusia dituntut untuk selalu memenuhi kebutuhan, namun disisi lain harus berhadapan dengan kualitas motivasi kerja yang sedang menurun. Apalagi menjelang akhir pekan yang semua tempat hiburan berlomba-lomba untuk menyambut kunjungan calon konsumennya.

Maka motivasi kerja dipenghujung pekan menjadi sesuatu yang mahal, bak intan berlian yang sedang diburu oleh setiap orang.

Berdamai dengan Akhir Pekan

Tidak dipungkiri, setiap manusia bekerja pada ujungnnya ingin menikmati hasil pekerjaannya. Banyak orang rela merogoh kocek dalam demi untuk memuaskan nafsu liburan di akhir pekan. Tapi lain cerita bagi Zoya sapaan akrab dari Muhammad Azzahra yang sedang viral di media sosial seperti yang beritakan diberbagai media.

Kerana dituduh mencuri amplifier usai melakukan shalat ashar di daerah bekasi. Pria tersebut menjadi sasaran amuk warga yang kemudian membakarnya hidup-hidup. Bagi Siti Jubaedah, istri tercintanya. Ia yakin suaminya tidak mencuri, Ia hanya tukang reparasi elektronik.

Terkadang Zoya, mencari barang bekas elektronik untuk diperbaiki yang kemudian ia jual kembali demi menafkahi anak istri tercintanya. Namun, kehendak Tuhan tidak bisa ditolak, awal bulan Agustus menimpanya, Ia dituduh mencuri amplifier musholla di Bekasi.

Padahal Zoya hanya mengamankan amplifier miliknya yang ia ikat di motor lalu dibawa ke dalam mushollah karena takut hilang.

Selesai sholat ashar ia pun bergegas kembali keluar sambil membawa amplifer untuk diantarkan ke pemiliknya namun nasibnya naas. Ia diteriaki maling oleh warga sekitar musholla bahkan Zoya sempat lari menyelamatkan diri dengan loncat ke kali.

Tapi warga menunggu kemunculan di hilir dan pada saat muncul, Zoya ditarik dan diseret hampir satu jam lamanya dan dibakar hidup-hidup secara tidak manusiawi. Itulah kisah hidup Zoya dalam menjemput rizki demi menafkahi anak istrinya yang berujung maut.

Bagi Zoya, akhir pekan itu hanya numpang lewat saja. Baginya, akhir pekan adalah hari yang berkah untuk menjemput rizki dari masyarakat sekitar yang membutuhkannya.

Bagi kita, yang tiap kerja dengan jadwal senin-jum’at atau ada juga senin-sabtu atau sama sekali tidak bisa merasakan kebersamaan di akhir pekan. lantaran tugas kerja yang mengharuskan masuk kantor walau kondisi psikologis menolaknya.

Seyogyanya, ini menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakannya agar berhati-hati menggagendakan pekerjaan di hari libur. Karena, di hari itu kondisi tubuh secara psikologis sudah tersetting libur.

Walaupun pekerjaan yang mengharuskan hadir di hari libur itu sangat penting , sebaiknya dikaji ulang efektifitasnya. Karena hal ini akan berdampak pada motivasi kerja yang membutuhkan pengakuan dari para pengambil kebijakan.

Menurut Abraham Maslow (1996) bahwa tingkatan kebutuhan manusia salasatunya adalah Kebutuhan fisiologis merupakan hirarki kebutuhan manusia yang paling dasar, yang merupakan kebutuhan untuk hidup seperti makan, minum, libur (istirahat), perumahan, oksigen, tidur dan sebagainya.

Serba serbi akhir Pekan
Hari libur bagi sebagian besar kalangan, banyak dipergunakan untuk menikmati kebersamaan bersama orang-orang tercinta. Atas nama kebersamaan, rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah bahkan ratusan juta rupiah untuk berlibur di akhir pekan.

Ada yang membawa keluarga ke pantai, taman marga satwa, museum, mendaki gunung, tempat perbelanjaan (Mall), makan siang di luar, menginap di hotel, nonton film di bioskop sampai pergi ke luar negeri untuk senang-senang menikmati hari libur.

Dalam sejarah kita mengetahui bahwa figur sentral ummat Islam pernah suatu waktu pergi ke taman bersama istrinya Siti Aisyah. Ini menunjukan bahwa Nabi pun sebagai manusia biasa membutuhkan rileks sejenak dari rutinitas yang  dilakoninya.

Lalu bagaimana dengan kenyatan masa kini. Menurut  hemat penulis berdasarkan hasil pengamatan: setiap hari Sabtu dan Minggu jalan-jalan protocol pada waktu pagi sepi sunyi, seperti bukan jalan protokol pada umumnya.

Padahal, pada di hari kerja Senin-Jum’at jalan-jalan protocol tersebut penuh dilalui hilir mudik kendaraan menuju tempat kerjanya masing-masing. Memang tidak dipungkiri, dilain pihak ada beberapa instansi pemerintah maupun swasta  dihari libur justru pelayanannya dituntut prima pada hari libur.

Namun, sebagai manusia tetaplah hari libur itu dianggap sudah menjadi milik orang-orang terdekat apalagi opini masyarakat yang ada dalam benaknya, mengatakan bahwa akhir pekan yang tergambar adalah libur .

Tengok saja diberbagai tempat hiburan selalu padat pengunjung dengan aneka ragam hiburan yang disediakan oleh para pengelola. Sehingga dari sini, kita bisa memprediksi bahwa moral kerja atau bekerja dengan sebaik-baiknya di akhir pekan menjadi barang mahal untuk diwujudkan.

Semoga liburan kita berbahagia, bersama orang-orang yang selalu bangga atas prestasi Anda, dalam berbagai kesempatan yang ada. Salam kebahagiaan !.

Asep Abdurrahman
Akademisi Universitas Muhammadiyah Tangerang
dan Pengajar SMP Daarul Qur’an Internasional Tangerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *