MENGENAL ‘SINGA’ dan ‘SATRIA DIGDAYA’

by

Dua tokoh, satu pemikiran, satu tujuan. Banyak cendekia menjadi saksi, akan kehebatan dan kecemerlangan dari kedua ilmuwan Muslim ini. Pujian banyak-banyak diberikan kepada keduanya. Baik atas karya tulis maupun perilaku mereka. Datang pula pujian bukan hanya dari kawan yang sefaham saja, tetapi juga yang berbeda faham. Karena pencapaian yang diraih oleh mereka bukan hal yang bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Wartapilihan.com, Depok— Kedua tokoh ini memiliki cerita yang berbeda masing-masingnya. Tokoh yang pertama ini adalah seorang singa. Yang teguh pada pendiriannya dan tak kenal takut pada siapa pun yang menentangnya. Kemudian, sang singa ini melahirkan singa lagi, dan terus begitu. Karena memang itu visi dari pemikirannya. Tapi, ia tidak asal dalam melahirkan singa. Singa yang dilahirkannya haruslah singa yang dapat teguh pendirian dan kuat ilmunya. Makanya, singa yang dilahirkan olehnya tidak banyak. Tak mengapa. Baginya, satu singa lebih baik dari seratus babi. Karena satu singa bisa memakan seratus babi.

Beda lagi ceritanya tentang tokoh yang kedua ini. Di awal kehidupan dewasanya, ia harus dicemplungkan ke ‘Kawah Candradimuka’ pemikiran yang teramat panas membara. Berhadapan dengan budaya dan pemikiran yang menafikan agama, menjadi momok baginya tiap hari. Meskipun hanya seorang putra dari sebuah desa di Kelantan, tokoh ini berhasil keluar dari kawah tersebut dengan selamat. Ia tidak terbakar atau pun terpengaruh oleh panasnya kawah sama sekali. Malah, ia menjadi seorang ‘Satria Digdaya’, sakti mandraguna, yang kebal dari segala senjata.

Kedua tokoh yang dimaksud di atas, tak lain dan tak bukan adalah Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Dalam livestream Kuliah Ust. Adian Husaini pada hari Jum’at, 27 Maret 2020, ia membahas kedua tokoh guru dan murid ini. Keduanya merupakan ilmuwan Muslim ternama. Kedua tokoh ini dikenal dan diakui kehebatannya oleh banyak orang, baik dari dalam negeri, maupun manca negara. Mereka dikenal sebagai orang yang mencetuskan dan mengembangkan gagasan Ta’dib dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer. Bukan hanya mengagas, tetapi sang guru – dibantu muridnya — juga mempraktekkan gagasan mereka dengan mendirikan sebuah perguruan tinggi yang bernama International Institute of Islamic Thought and Civilization, atau yang disingkat sebagai ISTAC.

Sedikit tentang Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Ia lahir di Bogor pada 5 September 1931. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Syed Ali bin Abdullah bin Muhsin al-Attas dan Sharifah Raquan al-Aydrus. Kakeknya, yakni Abdullah bin Muhsin al-Attas merupakan tokoh terkenal di Indonesia sebagai ‘Habib Keramat Empang Bogor’, yang makamnya sering diziarahi oleh banyak orang. Bahkan, sampai berkunjung pula calon Presiden Joko Widodo pada tahun 2014 dan kemudian menyusul pula wakilnya pada Pemilu 2019, K.H. Ma’ruf Amin.

Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas dikenal sebagai ulama besar. Itu dapat dilihat dari hasil didikannya, yakni murid-muridnya yang salah satunya adalah Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al-Haddad (Mufti Kerajaan Johor). Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas dikenal pula dengan kisah-kisah ‘kewalian’ dan ‘karamah’. Pernah suatu waktu Habib Keramat ini dijebloskan ke dalam penjara oleh pemerintah Hindia Belanda, bahkan sampai dirantai lehernya. Tetapi, menurut cerita yang beredar di masyarakat, kepala sipir penjara tersebut justru terjangkit sebuah penyakit misterius. Atas saran sang Habib, ia bisa sembuh jika lehernya juga dikalungi rantai. Wallahu a’lam.

Berbeda dengan kakeknya yang dikenal luas dengan aneka cerita karamahnya, Syed Muhammad Naquib al-Attas lebih dikenal dengan pemikiran-pemikiran dan kiprah-kiprahnya di dunia pendidikan dan pemikiran Islam. Habib Naquib — begitu sebutan beberapa orang padanya — mengawali pendidikan dasarnya di Bogor dan Sukabumi. Usai Perang Dunia II, pada tahun 1946, ia kembali ke Johor untuk menyelesaikan pendidikan menengahnya. Setelah itu, Al-Attas sempat mengenyam pendidikan militer di Royal Militer Academy, Sandhurst, England, dari tahun 1952-1955. Ia tidak melanjutkan karir militernya, karena ia lebih tertarik melanjutkan studinya ke University of Malaya di Singapura.

Saat menjadi mahasiswa di University of Malaya, Al-Attas menghasilkan dua karya penting, yakni Rangkaian Ruba’iyyat (1959) dan Some Aspects of Sufism as Understood and Practised among the Malays (1963). Karena kedua karyanya ini, Al-Attas dianugerahi beasiswa ‘Canada Council Fellowship’, untuk melanjutkan studi selama tiga tahun di Institute of Islamic Studies di McGill University, Montreal, Kanada. Di kampus ini, ia banyak bertemu tokoh-tokoh terkenal, baik dari kalangan orientalis maupun Muslim, seperti Wilfred Cantwell Smith, Toshihiko Izutsu, Fazlur Rahman, Seyyed Hosein Nasr, dan juga Menteri Agama RI yang pertama, H.M. Rasjidi. Tahun 1962, SMN al-Attas berhasil meraih gelar M.A.-nya dengan tesis yang berjudul, ‘Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh’.

Selepas dari McGill, Al-Attas melanjutkan studi doktornya ke School of Oriental and African Studies di University of London. Di bawah bimbingan Professor A.J. Arberry dan Dr. Martin Lings, ia menyelesaikan studi doktornya yang berjudul, ‘The Mysticism of Hamzah Fansuri’ yang berjumlah dua jilid.

Setelah menyelesaikan studi doktornya, Syed Muhammad Naquib al-Attas kembali ke Malaysia. Ia diundang untuk menjadi ketua Department of Malay Language and Literture dan kemudian, Dekan Faculty of Arts di University of Malaya, Kuala Lumpur. Al-Attas juga pernah diundang beberapa kali sebagai dosen tamu oleh beberapa universitas di Amerika Serikat, seperti Temple University, Ohio University, American University (Washington). Dalam kunjungannya ke Amerika inilah yang mempertemukan Al-Attas dengan Wan Mohd Nor.

Wan Mohd Nor Wan Daud lahir di Kelantan, tepatnya Tanah Merah, pada 23 Desember 1955. Ia adalah putra sulung dari tiga belas bersaudara dari pasangan Wan Daud bin Hj Wan Abdul Rahman dan Esah binti Awang. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Kelantan, Wan Mohd Nor mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke Northern Illinois University (NIU), Chicago, Amerika Serikat. Setelah lulus S1 (Biologi) dan S2 (Kurikulum) dari NIU, ia melanjutkan studinya ke University of Chicago, untuk belajar di bawah bimbingan Fazlur Rahman, seorang ilmuwan modernis terbaik pada zaman itu.

Dari Fazlur Rahman, Wan Mohd Nor belajar banyak tentang pemikiran Islam, terutama pemikiran Rahman yang ‘neo-modernis’. Meski berpaham ‘neo-modernis’, Fazlur Rahman sendiri tidak pernah memaksa murid-muridnya untuk mengikuti pemikirannya. Malah, ia mendorong para muridnya untuk berpikir kritis. “Muhammad Nor, you must be critical… ask what are the meaning of things,” begitu nasihat Fazlur Rahman kepada Wan Mohd Nor. Dan karena Wan Mohd Nor sendiri sudah memiliki jiwa aktvis Muslim sebelumnya, ia pun juga tidak serta merta mengaminkan segala pemikiran Fazlur Rahman. Selama kuliah di Chicago, Wan Mohd Nor sempat dijuluki sebagai Trio Chicago, bersama Ahmad Syafi’i Ma’arif dan Amien Rais.

Adalah tahun 1982 yang menjadi perjumpaan pertama Wan Mohd Nor dengan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Saat itu, Al-Attas merupakan dosen dan peneliti tamu di Ohio University. Kemudian, ia berkunjung ke University of Chicago, untuk melakukan penelitian tentang kitab Hujjatul Shiddiq karya Nuruddin ar-Raniri. Beberapa rujukan hendak dicarinya di perpustakaan Regenstein, University of Chicago. Fazlur Rahman, karena menghormati dan sudah kenal baik dengan Al-Attas, ingin menyediakan akomodasi yang terbaik untuknya. Dimintalah Wan Mohd Nor untuk membantunya dalam menyiapkan hal tersebut dan juga mendampingi al-Attas. Karena pertimbangan Fazlur Rahman pada saat itu, Wan Mohd Nor adalah satu-satunya mahasiswa Malaysia yang belajar dalam bidang Pemikiran Islam.

Pada awalnya, Wan Mohd Nor sempat bimbang. Karena ia pernah mendengar berita tentang S.M.N. al-Attas yang terkenal dengan ketegasan pribadinya. Terlebih lagi, karena Fazlur Rahman juga menyebut Al-Attas dengan sangat hormat sebagai, “Prominent scholar from Malaysia”. Akhirnya, Wan Mohd Nor menyanggupi. Ia menyewakan sebuah apartemen dan juga membawa barang-barang yang diperlukan untuk Prof. al-Attas. Semisal, pernah Al-Attas meminta tolong untuk mendapatkan edisi awal semua jilid kitab Mafatih al-Ghayb, yakni kitab tafsir al-Qur’an karangan Fakhruddin ar-Razi.

Setelah tiga bulan, Prof. al-Attas pun meninggalkan Chicago, karena penelitiannya sudah selesai. Sebelum ia pergi, ia sempat berpesan kepada Wan Mohd Nor untuk mengontaknya apabila telah selesai S3 dan pulang nanti. Setelah merampungkan kuliah S3 dan kembali ke Malaysia pada tahun 1986, Wan Mohd Nor mengajar di Universitas Kebangsaan Malaysia. Kemudian, ia diundang untuk bertugas di Kementerian Pendidikan. Ia tidak bertemu lagi dengan Al-Attas hingga penhujung tahun 1987, di mana ia menghadiri ceramah Al-Attas tentang M. Iqbal. Wan Mohd Nor tidak lama bertugas di Kementerian Pendidikan, hanya setahun lebih dua bulan, dari Januari 1987 – Mei 1988. Karena ia diundang oleh Prof. al-Attas untuk membantunya di ISTAC yang baru saja didirikan.

Dalam ISTAC ini, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas lebih lanjut mengelaborasikan konsep Ta’dib dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Ta’dib, atau dengan kata lain, pendidikan adab, menurut Al-Attas adalah suatu hal yang mendesak. Karena menurutnya, loss of adab (hilangnya adab) adalah krisis utama yang menyerang umat Muslim saat ini. Ide ini secara konsisten telah disampaikan olehnya sejak 1970-an. Al-Attas tidak menafikan bahwa memang ada serbuan dari pemikiran-pemikiran asing yang merusak umat Muslim. Tapi, menurutnya, itu hanyalah sebagian dari masalah yang melanda. Ada masalah yang lebih mendasar lagi, yakni masalah dalam diri umat Muslim itu sendiri, masalah ‘hilang adab’.

Menurut Al-Attas, ‘hilang adab’ adalah “hilangnya kedisiplinan, kedisplinan jiwa, raga, dan pikiran”. Jika seseorang kehilangan adab, maka dapat dipastikan ia telah kehilangan hikmah. Karena adab bersumber dari hikmah, menurut Al-Attas. Hikmah yang menuntun seseorang agar dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai dengan porsi dan derajatnya dalam ketentuan Allah SWT. Ketika segala sesuatu itu telah diletakkan sesuai pada tempatnya, maka akan terciptalah ‘keadilan’.

Keadilan yang terpenting, dalam Islam, ialah adil terhadap diri sendiri. Berbeda dengan konsep keadilan Barat, yang mana hanya meliputi hubungan antara dua pihak saja, dalam Islam, orang dapat berbuat zalim kepada dirinya sendiri. Menyakiti diri sendiri, tidak bekerja, dan berbuat jahat mungkin adalah yang disebut kezaliman dalam dunia Barat. Tetapi, hal tersebut dikatakan zalim karena merugikan negara. Mereka hanya berhenti pada aspek duniawi saja. Islam memiliki pandangan yang lebih soal ini. Karena seseorang apabila mengerjakan perbuatan munkar, maka ia bukan hanya merugikan negara. Ia juga telah melanggar perintah Tuhannya.

Maka dari itu, menurut SMN al-Attas, pendidikan bukanlah hanya untuk menciptakan warganegara yang baik (good citizen). Tetapi, juga untuk menciptakan manusia yang baik (good man). Internalisasi adab melalui pendidikan dalam diri seseorang bertujuan untuk menciptakan keadaan ‘adil terhadap diri sendiri’. Dalam kaitan negara, menurut Al-Attas, seorang Muslim harus memberikan kesetiaan tertingginya kepada Tuhan, bukan negara. Karena negara adalah makhluk. Ia tidak boleh diletakkan lebih tinggi dari ‘Al-Khaliq’ (Sang Pencipta).

ISTAC pun juga dijalankan oleh Prof. al-Attas sesuai dengan konsep Ta’dib yang digagasnya. Sebagaimana segala sesuatu diletakkan pada tempatnya, begitu juga ilmu. Ilmu pada hakikatnya tidak sama, tetapi bertingkat-tingkat derajatnya. Seperti ilmu yang bersumber dari wahyu semestinya diletakkan lebih tinggi daripada ilmu hasil perolehan akal. Mengikut Imam al-Ghazali, Al-Attas membagi ilmu menjadi dua, yakni fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.

Dalam kurikulum ISTAC, Fardhu ‘ain ialah mata kuliah yang wajib diambil bagi seluruh mahasiswa, tanpa terkecuali. Ia meliputi mata kuliah Religion of Islam, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, dan Mantiq. Sementara, fardhu kifayah adalah mata kuliah selainnya. Merujuk kepada pendapat Imam az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’alim, bahwa ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu hal. Yakni ilmu yang menjadi wajib ketika diperlukan untuk seseorang. Di ISTAC, seorang mahasiswa diwajibkan untuk mengambil mata kuliah, apabila mata kuliah itu berkaitan dengan tugas akhirnya. Meskipun mata kuliah tersebut berada di jurusan yang berbeda.

Setelah Prof. al-Attas dan Prof. Wan Mohd Nor diberhentikan dari ISTAC pada tahun 2002, Prof. Wan berkesempatan untuk melanjutkan gagasan ini di sebuah institut yang diberi nama CASIS (Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization). Lembaga yang bernaung dibawah Universiti Teknologi Malaysia (UTM) ini didirikan pada tahun 2012. Di CASIS inilah, aspek adab kembali ditekankan dalam pembelajaran. Dimana setiap mahasiswa dianjurkan untuk menjalankan mata kuliah yang wajib seperti yang disebutkan di atas — dengan tambahan Bahasa Inggris dan Arab — dan juga mata kuliah yang dirasa perlu untuk diambil.

Mungkin ada pertanyaan, mengapa Prof. Wan melanjutkan gagasan Al-Attas? Kenapa ia tidak membuat dan mengembangkan gagasan sendiri? Padahal, dirinya telah menjadi professor? Prof. Wan Mohd Nor percaya bahwa konsep yang dirancang oleh Al-Attas adalah konsep yang terbaik, yang sangat komprehensif, sehingga pantas untuk dilanjutkan. Dan Prof. Wan sendiri merasa bersyukur bisa berguru dan melanjutkan gagasan Prof. al-Attas tersebut. Itulah contoh adab terhadap guru. Yakni, bagaimana meletakkan diri kita di tempat yang pantas, sesuai dengan kadar kemampuan dan potensi kita. Tidak berlebihan, tidak kurang.

Itulah gambaran sosok dan pemikiran dari dua tokoh ilmuwan Muslim hebat pada abad ini. Masih ada banyak lagi sebenarnya yang dapat dipaparkan tentang SMN al-Attas dan Wan Mohd Nor. Tetapi, biarlah, supaya ini menjadi awal bagi kita untuk semangat mencari tahu dan belajar tentang kedua tokoh ini.

Perlu digarisbawahi, mungkin Prof. al-Attas dan Prof. Wan Mohd Nor banyak belajar di Barat, tetapi itu tidak serta merta membuat diri mereka mengikut pemikiran Barat. Mereka tahu mana yang benar dan salah dan berani untuk meletakkan hal tersebut pada tempatnya.
Lebih lanjut tentang kedua tokoh ini, silakan disimak video kuliah Ust Adian Husaini dan baca buku beliau: Mengenal Sosok dan Pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Wan Mohd Nor Wan Daud (Depok: YPI Attaqwa, 2020).

(Tulisan ini merupakan rangkuman Kuliah Pendidikan dan Pemikiran Kontemporer Dr Adian Husaini yang ke-27 pada Jum’at, 27/03/20 pukul 20.00)

Wallahu a’lam bisshawab
Kampus At-Taqwa College Cilodong-Depok
Depok, 3 April 2020

M. Faris Ranadi (Mhs Attaqwa College)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *