Kisah Haji Agus Salim dari Lisan Sang Cucu

by
Muhammad Faris Ranadi saat menyerahkan karya novelnya ke Pa Agustanzil

Haji Agus Salim, pahlawan nasional yang terkenal sebagai seorang poliglot karena kehebatannya menguasai berbagai bahasa asing. Bahkan hyperpoliglot, karena menguasai lebih dari 6 bahasa asing. Kehebatannya berargumen, sering dikutip Ustadz Adi Hidayat sampai Rocky Gerung! Tapi, tahukah pembaca, Agus Salim muda hampir atheis?

Wartapilihan.com, Depok– Jum’at, 10 Januari 2019, kami, santri-santri At-Taqwa College beruntung mendapat izin untuk berkunjung ke rumah cucu Haji Agus Salim. Namanya, Pak Agustanzil Sjahroezah di daerah Tangerang Selatan. Dari Pa Agustanzil inilah kami mengetahui berbagai cerita menarik seputar kakek Beliau.

Kami sampai di rumah Pak Agustanzil sekitar jam 10. Agak telat dari janji, karena agak kesulitan mencari rumah beliau yang berada di dalam perkampungan. Saat kami tiba, Pak Agustanzil menyambut dengan hangat. Ia mempersilakan kami untuk masuk dan menyuguhkan kami minuman. Beliau telah tinggal di daerah itu dari tahun ’89. Ketika itu, masih belum banyak perumahan seperti sekarang ini. Bahkan, yang menentukan beberapa nama jalan di perkampungan tersebut, adalah Pak Agustanzil sendiri.

Mula-mula, Pak Agustanzil bercerita pengalamannya dulu, ketika ia masih menjadi mahasiswa di ITB. Salah satu pengalaman yang ia ceritakan adalah ketika ia dan bersama kawan-kawannya memperjuangkan keberadaan Dewan Mahasiswa. Ketika itu, Dewan Mahasiswa akan dibubarkan karena suatu alasan. Karena merasa perlu dengan keberadaan Dewan Mahasiswa, Pak Agus dan kawan-kawannya pun menolak pembubaran tersebut. Tetapi, mereka perlu pemimpin. Maka, ditunjuklah Pak Agus sebagai Ketua Dewan Mahasiswa.

Kharisma kempemimpinan Pak Agus mungkin diturunkan dari kakeknya, Haji Agus Salim. Meskipun ia tidak sempat bertemu dengan kakeknya itu. Haji Agus Salim wafat pada tahun 1954, sementara Pak Agustanzil lahir pada tahun 1955. Beruntung, Pak Agus masih sempat bertemu dengan sahabat-sahabat kakeknya, seperti Syafruddin Prawiranegara, M. Natsir, Mohammad Roem dan lain-lain. Dari mereka, Pak Agus mendapat banyak cerita tentang kakeknya. Perilaku, pemikiran, dan perjuangan Haji Agus Salim ia terima dari tokoh-tokoh nasional.

Tidak banyak orang yang mengetahui, betapa kecerdasan seorang Haji Agus Salim lahir dari segala usaha dan pergolakan hati yang tak sebentar. Mengenyam pendidikan sekuler di Sekolah Belanda sejak SD hingga tamat SMA, membuat Haji Agus Salim sempat berfikir untuk menjadi seorang Ateis. Tambahan lagi, daya berfikirnya yang kritis dan sangat rasional, serta sikapnya yang jahil dan hobi mendebat, semakin menjauhkannya dari Islam.

Sekian tahun lamanya ia berkutat dengan berbagai pertanyaan tentang persoalan keislaman. Ia membaca buku dalam 9 bahasa yang berbeda, ia bertemu dengan banyak tokoh. Tapi tak satupun kesimpulan yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan hatinya. Padahal, iman beliau benar-benar sudah di ujung tanduk.

Hingga suatu ketika, ia mendapat pekerjaan di Konsulat Jendral pemerintah Belanda di kota Jeddah. Selama 5 tahun tinggal di Arab Saudi, beliau memutuskan untuk berguru dengan pamannya, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang merupakan Imam besar Masjidil Haram asal Sumatera Barat.

Dari ulama hebat itulah segala keraguan Haji Agus Salim terhadap Islam lenyap tak bersisa. Berbagai pertanyaan dan bahkan bantahan dari Haji Agus Salim berhasil dijawab dengan piawai oleh Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Yang akhirnya mengokohkan iman dan otoritas keilmuwan Haji Agus Salim dalam bidang keislaman.

Bahkan pada musim semi 1953, ketika beliau diundang memberikan kuliah tentang keislaman oleh Cornell University di USA, materi kuliahnya sukses memukau seluruh mahasiswa non-muslim disana. Hingga beberapa tahun kemudian, materi kuliah itu dibukukan oleh keluarga beliau dengan judul “Pesan-Pesan Islam”. Sungguh, Haji Agus Salim bukanlah sosok yang tiba-tiba cerdas sedari lahir. Dibalik segala kecerdasan dan kehebatan itu, ada hati yang tulus untuk berdamai mencari kebenaran yang sejati.

Haji Agus Salim juga merupakan tokoh yang sangat peduli dengan anak muda. Kendati di panggil Bung Karno dengan sebutan “The Grand Old Man” Haji Agus Salim adalah sosok pahlawan yang sangat dekat dengan anak muda. Seperti sahabat dwitunggalnya di Partai Sarekat Islam H.O.S Tjokroaminoto, kepedulian Haji Agus Salim terhadap kualitas generasi masa depan begitu terlihat dari cara beliau mengayomi para tokoh muda di sekelilingnya.

Dalam obrolan bersama Pak Agustanzil Sjahroezah kemarin, Haji Agus Salim diketahui ternyata tak pernah menganggap para tokoh muda tersebut sebagi muridnya. Bagi beliau, para tokoh muda tersebut tak lain adalah sahabat diskusinya. Ketika para aktivis muda mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB), organisasi gerakan pemuda berideologi Islam pertama di Indonesia pada 1925, Haji Agus Salim dengan senang hati menjadi penasihat di sana. Ia juga rela menjadikan rumah sederhananya sebagai pusat pengkaderan para pejuang muda muslim saat itu.

Gaya didikannya yang unik, diselingi beragam anekdot jenaka yang tak jarang memutar otak, membuat pertemuan JIB senantiasa berlangsung hangat dan menarik. Sudah menjadi kebiasaan Haji Agus Salim untuk tak pernah mendikte muridnya. Justru ia malah selalu melayangkan pertanyaan unik, bahkan dengan berbagai bahasa dan disiplin ilmu, yang memicu daya nalar dan kritis para anak muda tersebut. Hingga dari tangan dinginnya, lahirlah sosok-sosok hebat seperti Muhammad Roem, M. Natsir, Kasman Singodimedjo, Hamka, yang kelak akan meneruskan estafet perjuangan umat Islam di Ibu Pertiwi.

Acara kunjungan kami ditutup dengan makan siang yang telah disuguhkan oleh tuan rumah. Kemudian, beberapa orang dari kami menyerahkan karya tulis berupa buku kepada Pak Agustanzil. Santri dari Medan, Azzam Habibullah menyerahkan dua buku karangannya, yaitu Search (Novel, 2017) dan Anak Muda Hebat Indonesia: Be the Boss in Your Own Life (Ilmiah Populer, 2019). Begitu juga santri Atco lulusan PRISTAC, Faris Ranadi dan Fatih Madini yang menyerahkan buku mereka The Rosemary, Vol. 1 (Novel, 2020) dan Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia (Ilmiah Populer, 2018).

Wallahu a’lam bisshawab

Depok, 13 Januari 2020

Penulis: M. Faris Ranadi & Azzam Habibullah (Mahasiswa AtTaqwa College)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *