Kemenag Kembali Rilis Alquran Terjemah Daerah

by
foto:istimewa

Menag Lukman Hakim menuturkan ada tiga tujuan mengkonversikan terjemah Alquran bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah. Apa saja?

Wartapilihan.com, Jakarta — Penyusun Alquran terjemah Aceh dari UIN Araniri Banda Aceh Al Yasa Abubakar mengatakan, para penerjemah ingin sekali melanjutkan tradisi yang dulu dimulai. Seperti Nuruddin Araniri dengan Kitab Shirathal Mustaqim yang menyesuaikan budaya lokal Aceh.

“Ada satu hal yang menarik, dalam syarah Mir’atu Thalab tidak dijelaskan soal ibadah karena buku itu khusus buat qadi’ (hakim). Jadi, kesadaran ini ada ketika kami menerjemahkan bersama beberapa teman dari Al-Azhar, Cairo,” ujar dia.

Menurutnya, pendekatan agama dengan budaya lokal sangat diperlukan. Dalam menerjemahkan ke dalam bahasa Aceh, pihaknya menggunakan beberapa literasi. Diantaranya Al Muhkamul Qur’an Qurtubi.

“Kami juga mengikuti perkembangan sosiologi dan antropologi. Meskipun Qur’an ini terjemahan, tapi tidak bisa dipisahkan dari tafsir,” katanya.

Peluncuran Alquran Terjemah 3 Bahasa Daerah Aceh, Bugis, dan Madura ini akan melengkapi 12 terjemah Alquran bahasa daerah lainnya yang sudah terbit yaitu, yaitu bahasa Sasak (Nusa Tenggara Barat), Kaili (Sulawesi Tenggara), Makassar (Sulawesi Selatan),Toraja (Sulawesi Selatan ), Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), Batak Angkola (Sumatera Utara) Minang (Sumatera Barat), Banyumasan (Jawa Tengah) Dayak (Kalbar), Ambon (Provinsi Maluku), Bali (Provinsi Bali), dan Banjar (Provins Kalimantan Selatan).

Dalam kesempatan sama, Menag Lukmanul Hakim menuturkan, Kemenag menjadikan program terjemah Alquran ke dalam bahasa daerah sebagai program prioritas. Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dengan cara melakukan penerjemahan Alquran ke dalam bahasa daerah.

Pertama, membumikan Alquran. Alquran sebagai firman Allah merupakan firman yang memiliki kebenaran absolut. “Tujuan dari membumikan Alquran agar kita semakin bisa memahami, memaknai substansi dan esensi Alquran itu sendiri,” ujar Menag Lukman Hakim Saifudin di Gedung Kemenag, Jakarta, Kamis (13/12).

Kedua, Kemenag ingin melestarikan bahasa daerah. Salah satu caranya ialah menerjemahkan Alquran. Sehingga tidak hanya mendekatkan bahasa Ibu tapi juga melestarikan kearifan lokal.

Ketiga, dengan menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa daerah ialah bertujuan untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia yang religius.

“Karena budaya bisa memiliki keterkaitan dengan agama. Dan ini sesuatu yang patut kita jaga dan pelihara, sehingga kualitas kehidupan kebangsaan menjadi lebih baik,” tuturnya.

Ia berharap Kemenag mampu sebanyak mungkin terjemah Alquran ke dalam bahasa daerah se-Indonesia. “Saya tidak berani menyebut jumlahnya. Suku di Indonesia ada 700. Dan Aceh saja memiliki 10 bahasa,” katanya.

Menurutnya, tidak ada tafsir yang sama persis dengan tafsir lainnya. Mufassir merupakan manusia yang juga memiliki keterbatasan dan kekurangannya.

“Maka dengan pemahaman ini kita bisa lebih bijak menyikapi keragaman di tengah kemajemukan. Proses penerjemahan ini menurut saya perlu dilestarikan sehingga menjadi kajian yang dinamis di masa mendatang,” ujar Lukman.

Ia menandaskan ke depan Litbang Kemenag akan melaunching Alquran dengan terjemah bahasa Osing, Jawa, Rejang, dan Lampung.

“Mudah-mudahan penerjemahan Alquran ke dalam bahasa daerah tetap dapat menjaga moderasi agama. Semoga ikhtiar ini dapat terus dikembangkan di tahun mendatang,” pungkasnya.

Adi Prawira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *