DR. H. Nirwan Syafrin (Presiden PARIDA): Politik dan Intelektualisme Tidak Boleh Terpisahkan!

by
Dr H. Nirwan Syafrin (Presiden PARIDA)

Pada 17 Ramadhan 1440 H lalu, berdiri satu Partai Politik baru di Indonesia, bernama Parta Indonesia Beradab (PARIDA).  Partai ini dipimpin oleh Dr. Nirwan Syafrin Manurung, yang selama ini lebih dikenal sebagai cendekiawan dan akademisi muslim.

Wartapilihan.com, Jakarta– Dr. Nirwan saat ini masih mengurus satu pesantren di Sukabumi dan juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.

Untuk menggali lebih jauh tentang PARIDA dan tantangannya, berikut ini wawancara wartawan wartapilihan.com dengan Dr. Nirwan Syafrin:

Tanya: Bagaimana respon masyarakat terhadap pengumuman berdirinya PARIDA?

Jawab: Saya tidak menyangka responnya akan sesemarak ini. Responnya cukup beragam. Ada yang tidak setuju, ada yang mendukung, ada yang menawarkan diri menjadi pengurus, ada juga yang menunggu perkembangan. Tapi, banyak juga yang terkejut.

Tanya: Terus, apa yang Anda lakukan terhadap respon-respon tersebut?

Jawab: Kami mengucapkan terimakasih, apa pun responnya. Itu artinya, PARIDA menjadi perhatian.

Tanya: Mengapa banyak yang mengaku terkejut?

Jawab: Mungkin karena kemunculannya terkesan dadakan atau tiba-tiba. Apa lagi nama-nama yang muncul saat ini di PARIDA bukan orang-orang yang aktif di dunia politik. Kebanyakan mereka berlatar belakang  guru, akademisi, dan peneliti. Tidak ada tanda-tanda terjun ke politik praktis. Makanya mungkin banyak yang terkejut.

Tanya: Terus, apa jawab Anda?

Jawab: Saya bilang, ya, kita lihat saja nanti perkembangannya, dan mohon doanya.

Tanya: Sebenarnya, apa motif Anda mau menjadi Presiden satu Partai baru yang belum jelas prospeknya?

Jawab: Kalau dikatakan mau, sebenarnya saya juga tidak mau. Mengingat amanahnya cukup besar dan berat. Tapi karena banyak teman-teman, baik yang aktivis, akademisi, dan juga beberapa cendekiawan senior yang memandang bahwa sekarang saatnya yang tepat untuk mendirikan partai baru, ditambah niatnya baik dan logikanya juga kuat, maka kita sepakatilah mendirikan partai ini. Untuk saat ini, saya diamanahi untuk jadi Presidennya , sampai Muktamar pertama nanti yang insyaAllah akan dilakukan satu tahun dari sekarang. Saat Muktamar nanti kita lihat situasi. Mudah-mudahan ada yang lebih layak, capable, dan memiliki kompetensi yang jauh lebih baik dari saya. Dialah yang kita harapkan akan menakhodai partai ini.

Tanya: Bukankah dunia politik saat ini dipahami oleh banyak pihak sebagai dunia yang penuh intrik, dunia persaingan, dan sebagainya. Mengapa Anda mau terjun ke dunia seperti ini. Apakah nantinya tidak akan merugikan citra intelektualitas Anda?

Jawab: Itu justru menjadi tantangan bagi kita-kita yang ada di partai ini. Mungkin kami  yang selama ini dikenal lebih sebagai akademisi, ditantang  untuk bisa menampilkan politik yang berteraskan adab. Bagi seorang muslim, politik itu kan sebenarnya bagian dari aktivitas dakwah. Para founding fathers negara kita dulu banyak yang kyai, ustadz, dan para dai. Artinya mereka melihat politik itu adalah bagian dari dakwah. Para intelektual, ustadz, kyai, para dai, tidak boleh berlepas tangan atas urusan negara ini. Mereka juga punya tanggung jawab dalam membangun,  membentuk, dan memberikan arah dan tujuan masyarakat.

Tanya: Tapi, selama ini, dalam dunia politik kita, intelektualitas itu kurang menonjol. Yang menonjol hanya soal perebutan kursi kekuasaan. Bagaimana melihat kondisi semacam ini?

Jawab: Mungkin itu betul sebagian. Tapi kan tidak selamanya dan harus seperti itu.  Sebenarnya banyak politisi kita yang cerdas dan menyampaikan gagasan-gagasan juga secara cerdas. Tapi sayangnya, wacana intelektual itu kurang terangkat dalam media massa.

jika kita telaah perjalanan politik kita di tahun 1950-an, begitu kaya dengan gagasan-gagasan ilmiah dalam menyelesaikan masalah bangsa. Sebagai contoh, pidato Mohammad Natsir tahun 1957 di Majelis Konstituante, tentang bahaya sekulerisme bagi bangsa Indonesia, sangat ilmiah dan tegas dalam bersikap. Para ulama dan cendekiawan kita dulu telah memberikan contoh bagaimana terjun dalam dunia politik tanpa kehilangan intelektualitas dan integritas pribadi mereka. Dengan kata lain, menurut saya, politik dan intelektualisme serta integritas akhlak tidak boleh dipisahkan.

Tanya: Itu dulu, ketika politik masih didominasi dengan idealisme. Bukankah kondisi sekarang semakin pragmatis dan materialis?

Jawab: Memang betul begitu. Tapi, tidak sepenuhnya. Saya yakin masih banyak masyarakat kita yang memiliki idealisme tinggi dalam kehidupan, dan lebih mengutamakan kebenaran, lebih dari pada yang lainnya. 

Tanya: Apa itu bukan hal yang sangat susah, bahkan nyaris mustahil, dalam dunia politik yang semakin pragmatis?

Jawab: Masuk sorga itu memang susah.  Untuk masuk DPR, artinya menjadi anggota DPR saja susah, apalagi masuk sorga! Ha ha…

Tanya: Jadi, Anda berpolitik ini untuk memperjuangkan kebenaran atau mau cari kursi kekuasaan?

Jawab: Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan memperjuangkan tegaknya kebenaran dan melawan kemunkaran. Itu kewajiban setiap muslim. Di mana saja, kapan saja. Jadi, tugas politisi muslim dan partainya juga begitu. Itulah yang utama. Kalau kemudian masyarakat banyak yang setuju dan mendukung perjuangan kami, dan kemudian memberikan amanah kekuasaan, ya itu dampak saja. 

Tanya: Apa betul PARIDA ini ‘jelmaan’ dari Partai Bulan Bintang (PBB)?

Jawab: Begini. Teman-teman para inisiator partai ini melihat saat ini ada kondisi dan situasi baru yang mengharuskan berdirinya satu partai yang didominasi anak-anak muda. Jadi, apa pun keadaan PBB, PKS, PPP, atau partai lainnya, kehadiran PARIDA, menurut kami, memang sudah satu keharusan sejarah.

Tanya: Apa PARIDA nantinya justru akan menjadi saingan dari partai-partai Islam, seperti PKS, PBB, PPP, dan mungkin yang lain lagi?

Jawab: Justru sebaliknya, kami melihat, PARIDA akan membantu peningkatan suara partai-partai Islam.  Kami akan bersilaturrahim dengan saudara-saudara kami semua.  Karena kami bersaudara, dan kami lebih muda usia partainya, maka kami akan berusaha menyatukan potensi untuk sama-sama memperjuangkan kebenaran.

Sejak awal pendirian PARIDA, teman-teman berkomitmen, bahwa sikap zuhud (tidak cinta dunia) harus menjadi landasan utama dalam perjuangan, dalam bidang apa pun. Sebab, begitu sifat ‘cinta dunia’ – cinta jabatan, cinta harta, cinta kehormatan – itu merajalela, maka partai akan rusak, dan pasti akan mengalami kehancuran.

Kami menyadari, memang ini sangat tidak mudah. Untuk itulah, nanti kita akan melakukan pelatihan atau penataran kepada para calon anggota dan pengurus partai, agar mereka semua benar-benar memahami bahwa bergabung dengan PARIDA itu adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan. Kalau mau cari kenikmatan dunia, jangan masuk PARIDA!

Tanya: Apa sih kekhasan PARIDA dibandingkan dengan partai lain?

Jawab: Kami ingin menekankan pada pembinaan pengurus dan anggota PARIDA, agar kami semua menjadi insan beradab. Yakni, sesuai dengan pasal 31 ayat 3 UUD 1945, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk melahirkan manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Menjadi orang bertaqwa itu adalah menjadi manusia yang paling mulia dalam pandangan Allah SWT. Selanjutnya, manusia-manusia yang baik itulah yang pasti akan berjuang untuk memperbaiki masyarakat dan bangsanya, sehingga negeri kita semakin adil, makmur, dan beradab. Jadi, PARIDA akan lebih fokus kepada pembinaan manusianya.  Menurut kami, inilah agenda besar umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan, yaitu melahirkan insan-insan mulia, insan kamil, insan yang adil dan beradab, sesuai sila kedua Pancasila.  Karena itulah, sekarang sudah ada usulan-usulan untuk mengganti nama partai ini menjadi PARTAI INSAN BERADAB (PARIDA). InsyaAllah, nanti akan kami umumkan pada waktunya.

Tanya: Kenapa singkatannya agak aneh, PARIDA, kenapa bukan PIB?

Jawab: Wah itu panjang proses musyawarahnya, selama berbulan-bulan. Akhirnya terpaksa dilakukan voting di antara para perintis. Semula partai ini diberi nama PARTAI KERIS WALISONGO. Ada yang mengusulkan, Partai Islam Indonesia, Partai Demokrasi Islam, dan sebagainya. Belakangan ada yang mengusulkan, PARTAI INDONESIA MUDA. InsyaAllah, masalah nama partai ini juga akan ditetapkan saat Muktamar pertama tahun depan.

Tanya: Dengan memegang prinsip seperti ini, apa mungkin PARIDA akan menjadi partai besar atau akan memenangkan kontestasi politik?

Jawab: Prinsip kami, dalam perjuangan menegakkan kebenaran, kemenangan akan terjadi jika Allah bersama kami. Dan perjuangan akan kalah jika Allah meninggalkan kami! Yang penting kami berjuang dengan sebaik mungkin, dengan merumuskan pemikiran-pemikiran yang baik, dan berusaha menegakkan akhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Selebihnya, bagaimana hasilnya, kita berserah diri kepada Allah. Tidak ada kerugian apa-apa dalam berjuang. Karena ini adalah perjuangan. Ini ibadah.

Wallahu A’lam.(Bogor, 19 Juli 2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *