Dana IMF Terlalu Mewah

by
Pertemuan IMF dan World Bank diselenggarakan di Bali pada 8-14 Oktober. Foto: Istimewa.

Event yang mahal ini akan berlangsung di saat bangsa Indonesia sedang menghadapi bencana besar yang baru saja secara beruntun terjadi. Mulai dari gempa Lombok hingga gempa tsunami Palu dan Donggala.

Wartapilihan.com, Jakarta – Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyampaikan pesan untuk mendukung warga segera bangkit dan beraktivitas kembali. Hal tersebut disampaikan di hadapan para pelaku penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Kota Palu. Pihaknya menambahkan bahwa sejak dua hari lalu Kantor Gubernur telah beroperasi kembali.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri Arief M. Eddie pada rapat koordinasi. Kementerian Dalam Negeri mengajak aparatur sipil negara (ASN) mulai beraktivitas pada Senin (8/10). Melalui masuknya ASN ke kantor, masyarakat diharapkan dapat beraktivitas kembali seperti biasanya.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, beberapa hari pascagempa bermagnitudo 7,4, warga sebenarnya sudah memulai beraktivitas seperti membuka kios, warung makan, menjual air kelapa, maupun penginapan yang dihuni para pelaku penanganan darurat.

“Situasi ini telah didukung oleh pemulihan utilitas dasar seperti suplai air, listrik dan bahan bakar minyak yang hampir mencapai target pemulihan,” ujar Sutopo dalam keterangan tertulis yang diterima Wartapilihan.com, Senin (8/10).

Lebih lanjut, ia menjelaskan Pertamina telah memulihkan 33 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dari 36 unit yang ada di wilayah terdampak. Untuk mengantisipasi antrian, Pertamina juga menjual BBM dengan kemasan 15 liter dan SPBU mini di 50 titik.

“Pertamina mengharapkan pemerintah daerah untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa pasokan BBM aman untuk 14 hari ke depan, sedangkan solar 23 hari. Pertamina selalu memonitor ketersediaan pasokan sehingga masyarakat dapat terlayani dengan baik,” katanya.

Sementara itu, suplai listrik sudah dapat dinikmati sebagian besar warga yang berada di wilayah terdampak. Gardu induk telah beroperasi dan sejak kemarin (6/10), wilayah Parigi Moutong sudah teraliri listrik. PLN dengan dukungan 1.500 personel dari seluruh Indonesia berusaha untuk memperbaiki seluruh jaringan listrik yang rusak.

“Secara pararel, selain mengaliri listrik ke rumah warga, PLN juga melakukan prioritas untuk bangunan di dalam kota, khususnya rumah sakit. Tujuannya untuk menghidupkan pereokonomian setempat,” ungkapnya.

Gempa bermagnitudo 7.4 terjadi pada 28 September 2018 lalu mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia. Pos Komando Satuan Tugas Gabungan Terpadu menyampaikan bahwa data sementara korban meninggal dunia per 7 Oktober 2018 pukul 13.00 WIB sejumlah 1.763 jiwa. Jumlah korban meninggal tertinggi di Kota Palu dengan 1.519 jiwa, Donggala 159, Sigi 69, Parigi Moutong 15 dan Pasangkayu di Sulawesi Barat 1 orang.

“Prioritas penanganan darurat masih difokuskan pada evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban, penanganan medis, distribusi logistik makanan dan non makanan serta percepatan pemulihan infrastruktur seperti jalan, listrik, pelabuhan, bandara, telekomunikasi dan pasokan BBM,” ujar Sutopo.

Prioritaskan dana untuk korban gempa

Sementara itu, Wakil Sekjend Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin mengkritisi event internasional annual meeting IMF World Bank di Nusa Dua Bali pada tanggal 12 hingga 14 Oktober 2018 mendatang.

Pasalnya, untuk acara yang hanya tiga hari akan menguras biaya sekitar 1 Triliun. Adapun rincian biaya terbesar adalah akomodasi yang mencapai Rp569,9 miliar, diikuti makanan dan minuman sebesar Rp190,5 miliar; transportasi sejumlah Rp36,1 miliar; hiburan sebesar Rp57 miliar; dan souvenir senilai Rp90,2 miliar.

“Pertanyaannya apakah kita harus mengeluarkan biaya sebesar dan sebanyak itu? Hemat saya ini terlalu mewah dan terlalu wah biaya tersebut, untuk sekelas konferensi di negara berkembang seperti Indonesia,” ujar Didi kepada Wartapilihan.com, Senin (8/10).

Terlebih, kata dia, event yang mahal ini akan berlangsung di saat bangsa Indonesia sedang menghadapi bencana besar yang baru saja secara beruntun terjadi. Mulai dari gempa Lombok hingga gempa/tsunami Palu/Donggala. BNPB mencatat korban pada kedua bencana tersebut mendekati angka dua ribuan orang baik meninggal dan mengalami luka serius, puluhan ribu lainnya harus kehilangan tempat tinggal. Dan kerugian ditaksir triliunan rupiah.

“Oleh karenanya, jika pemerintah bersedia melakukan penghematan, saya meyakini pihak-pihak asing yang akan diundang bisa mengerti dan memahami situasi yang ada,” katanya.

Kendati tidak ada bencana alam-pun, ungkap Didi, event dengan anggaran sebesar satu Triliun itu tampaknya juga kurang tepat, sebab saat ini rakyat masih menghadapi persoalan ekonomi yang tidak kalah pelik, seperti daya beli yang menurun, peningkatan jumlah pengangguran, BBM mahal, listrik mahal, gas mahal dan sederet persoalan pelik lainnya terkait kesejahteraan.

“Bukankah kita harus peka dan berempati pada situasi yang ada? Waktu masih cukup untuk bisa lakukan penghematan jelang annual meeting IMF World Bank,” ujar dia.

Didi menjelaskan, sasaran dari pertemuan IMF World Bank, antara lain memberikan kesejahteraan untuk negara-negara yang perlu bantuan dari lembaga tersebut. Oleh karenanya bukanlah saat yang tepat untuk pamer kemewahan dan mahalnya biaya untuk acara yang ada.

“Alangkah mulianya andai negara bisa mengalihkan sebagian dana ini untuk menolong korban tsunami, gempa Palu, Donggala, dan gempa Lombok,” tandasnya.

Ahmad Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *