Berlomba Menjadi Cawapres adalah Sukses Revolusi Mental

by
foto:istimewa

Bukankah ini bukti sukses Revolusi Mental?

Contoh-contoh sukses ini harus dikloning sebanyak mungkin. Kita memerlukan orang-orang yang bermental baja seperti Cak Imin, Gus Romi atau AHY. Mereka akan memberikan teladan kepada generasi penerus tentang bagaimana cara memlestarikan salah satu budaya politik khas Indonesia, yaitu “budaya men**lat”.

Banyak yang berpendapat bahwa mereka itu, dan mungkin para tokoh lain yang akal muncul kemudian, melakukan tindakan yang memalukan. Bagi orang yang menganut “definisi lama” tentang kehinaan, mungkin itu disebut memalukan. Atau, bagi generasi muda milenial, tindakan itu sangat memalukan. Tetapi, para penyodor diri merasa Revolusi Mental itu mencakup pembiasaan diri dengan konsep kehinaan. Supaya manusia Indonesia bisa belajar kepada mereka bagaimana menjadikan akal sehat kebal (immune) terhadap arti malu.

Bagi orang lain, mereka bisa saja dipandang sebagai pegemis. Namun, bagi mereka, yang mereka lakukan adalah inovasi Revolusi Mental yang diinginkan Jokowi itu. Mereka adalah success story dari Revolusi Mental itu.

Jadi, tidaklah benar kata sejawaran Didi Kwartanada, ketika meluncurkan bukunya #KamiJokowi, hari Jumat (16/3/2018), bahwa Revolusi Mental pemerintah Jokowi “nanggung”. Didi segan mengatakan gagal. Tetapi, pendukung Jokowi ini melihat gagasan Revolusi Mental tidak lagi menjadi perhatian Jokowi.

Dalam hal ini, kami tak sepakat dengan Pak Didi. Kami bependapat, Revolusi Mental telah menunjukkan keberhasilan yang luar biasa lewat mental baja para penyodor diri cawapres. II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *